Popular Post

Popular Posts

Recent post

Archive for 2013

SLEP...!
Tidak mudah seorang penulis mendapatkan SLEP saat akan mengawali cerita atau mulai menulis. Sebab, untuk mendapatkan SLEP, seseorang harus melakukan perenungan dulu selama beberapa waktu. Mungkin sebelum itu, ia berganti-ganti menulis cerita atau mendapatkan ide yang campur aduk. Sebelum mendapatkan SLEP, tentunya penulis itu akan kebingungan dalam kefokusannya menulis.

Mengapa?
Sebab ia belum dapat SLEP itu! SLEP itu apa sih? Ya, hanya penulis-penulis handal yang bisa mendapatkannya. Mungkin saja ada novel yang terasa garing, hambar atau gimana en terasa biasa, mengapa hal itu bisa terjadi? Ya itu tadi, sebab ia tidak mendapatkan SLEP tapi terus menulis asal menulis, asal selesai dan produktif.

Hasilnya? Ya nggak ada SLEP-nya, SLEP itu ibarat kita menemukan makanan yang enak, like ngidam gitu deh! Kalau nggak dapat, bakal nggak tenang, kalau sudah dapat, wuahhh senangnya... laksana bisa terbang kelangit ketujuh.

Nah, sama kayak kita nonton film yang kerasa nggak banget!! Itu lantaran SLEP-nya nggak ada!!!
Oke-oke,sekarang bagaimana cara mendapatkan SLEP?

Ada tips baru buat kamu yang pengen ceritamu bisa dikenal pembaca karena mengandung SLEP didalamnya:
1. Meditasi, tapi ini tentunya meditasi yang berarti perenungan terdalam, diam, terpengong asal jangan sampai kesambet yah!

2. Jaman sekarang ngga ada istilah kamu haram ke Klentheng, buat orang Islam. Atau mau kewihara, atau mau ke kuil atau mau ke tempat ibadah manapun juga. Sekedar untuk mencari bahan dan sumber yang jelas dari sumbernya, kau harus berani untuk melihat sendiri dan bukan hanya sekedar membaca saja. Contoh riil; aku pernah pergi ke klentheng sendirian sekedar untuk mendapatkan SLEP sebagai seorang tokoh bernama Ming Yi Tian yang duduk dan berdiri di depan patung Budha berwajah empat, lalu melakukan perenungan disana. Itu boleh-boleh saja ahha, siapa yang melarang? Tidak ada hubungan antar haram atau tidaknya dalam agama, karena ini sekedar untuk mencari SLEP. Jadi ngga ada hubungan antar dapat pahala atau tidak or masuk neraka atau surga. Orang cuma buat nulis en dapat SLEP.

3. Jalan-jalan sendirian tanpa teman, muter-muter di tempat yang membuat SLEP itu biasanya datang, tapi jangan kuburan yah! Nanti ditemani mbak kunti hahha...

4. Berbaurlah dengan para peramal tarot, hoho aku nggak nyaranin untuk syirik, cuma sekedar agar kamu bisa melihat ia membaca sebuah cerita dari kartu-kartu yang dibacanya. Sehingga peramal itu juga hampir sama dengan penulis. ^_^ menarik lho! Hati-hati tapi jangan sampai masuk ke lubang untuk jadi pembaca tarot juga, just seeing aja en understanding...OK!

5. Naik ke atas genting pagi2 pas matahari mau terbit, lakukan perenungan disana...or lihat hujan deh! ^_^ SLEP insyaAllah datang...

SLEPP...SLEPP...SLEPPP!!!
tertusuk di dadamu...Aarrgh...!!!

Ngomong-ngomong tentang alur...

btw, apa sih alur itu? Boro-boro ngomongin alur? Waktu aku belajar nulis secara otodidak saja, aku sama sekali nggak tahu tuh tentang artinya ALUR? Alur cerita..., yang menurutku ya arah jalan cerita aja. Tapi tentang arti sebenarnya yang dijelaskan secara gamblang, sampai sekarang aku malah nggak pernah ngerti tuh!

Terus gimana cara buat alur yang bagus. Buat alur bagus? Nggak kepikiran kaleeee. Jadi nggak ada istilah rumus bagaimana cara buat alur yang bagus, yang ada itu pikiranmu yang harus bagus. Sebab alur tak butuh rumus.

Just nulis!! Itu aja, penting nggak sih menjaga alur?
PENTING sekaligus PENING..., coba kau lihat kalau hilang huruf 'T' saja artinya sudah berubah bukan? Ya, alur itu bikin pening karena di dalamnya berisi arah cerita yang terpenting.

Jadi, usahakan kamu nggak sering ngalami penyakit AMNESIA deh! Sebab si penjaga alur itu otak memori kamu!

Jangan sering jatuh2in kepala ato jedotin kepala ke tembok kalo lagi kena virus mood ilang, itu bisa bikin alur cerita di memori jadi AMBURADUL!

So..., pastikan otakmu dalam keadaan sehat dan nggak lagi ngamar di RSJ atau lagi curhat sama psikiater... bisa-bisa kamu dikasih obat penenang en obat tidur yang bikin nggak bisa bangun, pas bangun otak memorimu udah hilang semua...






Tentang alur cerita

Tahun 2010, aku bertemu dengan seseorang yang mengajarkanku tentang cara berimajinasi yang sempurna dan bisa keliling dunia. Seolah ruh kita benar-benar terbang kesana.

Dan aku, memunculkan kisah itu di novel  Saranghamnida, Oppa, Rahasia Abidah juga Diary suamiku.

Jika kalian pernah membaca novel-novel tersebut, betapa tingginya daya imajinasiku saat itu bukan?

Aku menulis karena senang, tenang dan nyaman....

Hal itulah yang dapat membuat tuliskan di novel terasa lebih hidup...

Ingiin mencoba berimajinasi tinggi???

Namanya Nindy, dia adalah seorang bayi kecil yang mengubah hidupku belakangan ini. Umurnya baru 9 bulan, tapi sudah berhasil memporak-porandakkan seisi rumah termasuk ayah dan  ibunya.

Saat kemudian aku tidak lagi bisa menulis lantaran bertambah aktifnya diri bayi itu, akupun berdoa pada Tuhan. "Ya Allah, jika memang sudah saatnya aku berhenti menulis. Maka berikanlah rejeki tambahan yang besar untuk suamiku agar aku bisa mengurus bayiku dengan baik."

Dan doa itu sekitar dua bulan yang lalu. Aku tidak menganggap diriku baik dan atau paling suci di bumi ini, masih banyak kesalahan yang aku lakukan.

Tapi, ternyata..., Tuhan menjawab doaku dengan cepat. Ia berhasil menghentikan waktuku yang panjang untuk menulis dan berganti menjadi mengasuh Nindy yang sudah merangkak kemana-mana. Tentunya hal itu membuat laptop sering on off melulu. Hingga pada akhirnya aku pun mencoba untuk mengganti waktu menjadi malam hari pukul 12.

Kucoba perlahan, masih tetap tak bisa. Malah rasa kantuk yang semakin merajalela, and then..., I must to stop it!

Pekerjaan menulisku kuhentikan. Berapa hari setelah itu, my husband memberiku kabar gembira bahwa mulai bulan ini sampai ke depan ia memiliki peningkatan dalam materi karena pekerjaannya sebagai pengelola dana investor.

Kemudian ia memintaku untuk berhenti menulis dan terfokus mengurus Nindy. Ya, awalnya menghentikan itu terasa sulit. Tapi perlahan aku mulai mencobanya...

hingga akhirnya aku malas membuka word, sedang kini kuganti dengan blog saja yang tidak menguras pikiran apapun.

Demi anakku, aku tidak mau menduakannya dengan novel. Sebab ia adalah harapanku satu-satunya, ketika aku tengah sering duduk sendirian memandang laptop. Aku jenuh, bosan sebenarnya. Bosan merangkai kata-kata dan cerita fiksi. Aku ingin hidup dalam dunia nyata, dan aku pun juga sudah jenuh dengan berbagai macam peraturan yang membuatku lebih sering diawasi dalam setiap kalimat yang kulontarkan.

Aku memutuskan untuk bebas dari kekangan dan ikatan pekerjaan, dan aku sangat ingin berhenti menulis dan menikmati hidup. Lantaran selama ini aku mengejar tulisan dalam tempo yang cepat.

Aku ingin menghilang dari dunia itu, yang sudah membuatku jenuh. Apalagi ketika apa yang kuharapkan selama ini masih tetap sama bahkan jauh lebih kecil daripada itu.

Aku tidak ingin terikat dengan penerbit atau berurusan dengan penerbit, yang notabene sering membuatku sesak napas.

Aku ingin penulis itu dijunjung tinggi, dihormati dan dihargai. Aku ingin penulis itu seperti seseorang yang dibutuhkan dan bukan membutuhkan.

Dan kini, aku benar-benar ingin berhenti menulis. Saat pilihan terfokus pada anak, untuk belajar hal baru mengurus si kecil yang selama ini masih banyak yang belum kumengerti.

Sejujurnya, aku tidak ingin menjadi penulis. Sejujurnya, aku hanya ingin menjalani hidup ini dengan tenang dan cita-citaku adalah hidup dalam ketenangan. Maka jika profesi menulis sudah memberikan ketidaktenangan hati dan pikiran. Lantas, buat apa itu dikerjakan dan diteruskan...?

I love you my husband, Nindy...
so much!!!


- Copyright © Blog Vanny Chrisma W - Devil Survivor 2 - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -