Popular Post

Popular Posts

Senin, 06 September 2010

The Lost Memory (Memori yang hilang)
Vanessa, seorang wanita berusia 26 tahun, merasa dirinya ada masalah setelah kekasihnya berkali-kali memanggilnya gila atas tingkah lakunya yang berubah-ubah. Dia pun sering pelupa, jika mengirim pesan tak pernah ingat lagi, dan bekas pesannya pun cepat-cepat dihapus agar tidak dapat meninggalkan jejak. Vanessa pun sulit untuk diajak bersosialisasi dengan teman-teman yang lain. Jika pun mencoba untuk berkumpul, selalu ada percekcokkan besar yang membuat dirinya terisolasi dari teman-temannya. Vanessa sosok yang dibenci..., pemarah, pencuriga, dan Pemberontak. Namun terkadang ia pun sering menangis di kala berada di kesendirian. Dalam hubungan keluarganya pun dia menjadi sosok tidak disukai karena sering membantah, tidak pernah menurut dan berani pada orang yang jauh lebih tua. Dia tidak pernah pandang bulu.
Tapi, sebenarnya Vanessa mencintai kedamaian, langit dan suara-suara burung gereja yang melintas tiap pagi. Karena teguran dan ejekan dari kekasihnya itu, ia pun berusaha mencari bantuan dari mana-mana agar dapat menyembuhkan penyakit anehnya tersebut. Vanessa pun tidak menyadari bahwa ada jiwa lain di dalam tubuhnya yang mengendalikan pikiran dan tingkah lakunya sehari-hari. Pertama kalinya ia meminta bantuan 'orang pintar' untuk menghilangkan emosinya yang seringkali meledak-ledak. Berbagai terapi supranatural pun diikutinya untuk mendapatkan hasil kebaikan tersebut, agar kekasihnya tak lagi menyebutnya 'gila'.

Ternyata, selang tak berapa lama ia pun membuat masalah dengan seorang aki-aki yang diakui sakti karena tidak mau menuruti permintaan aki tersebut untuk menggunakan bunga-bunga atau semacam ritual tertentu. Vanessa membantahnya, padahal tidak ada seorangpun yang berani untuk menentang ucapan aki itu seorangpun. Hanya Vanessa yang berbicara. Kemudian, ia pun keluar dari dunia supra dan menganggap usahanya telah gagal. Pesan pribadi Vanessa diawasi dan dibaca oleh kekasihnya sendiri. Sehingga timbullah percekcokkan besar kembali. Ia pun putus asa dan menangis tiap hari di dalam kamar.

Bantuan apalagi yang harus dicarinya? Dan semakin terpuruk ketika kekasihnya mengatakan bahwa dirinya lebih cocok mendekam di Rumah Sakit Jiwa. Vanessa berusaha mencari lagi bantuan dengan mencoba untuk mendaftar di sekolah kepribadian, John Robert Power. Namun tidak diijinkan oleh kekasihnya karena harus menelan biaya berjuta-juta rupiah. Vanessa tak putus asa, ia mencari forum motivasi agar dirinya selalu dapat berpikir positif. Tapi lagi-lagi gagal oleh rasa putus asanya.
Pada suatu hari, ia bertanya pada kekasihnya lagi tentang seseorang yang bisa menghipnotis dan menghilangkan penyakit ketakutannya. Tapi, karena kekasihnya tersebut sudah trauma dan tidak ingin mendapatkan malu kembali. Maka Vanessa diminta untuk mencari tahu sendiri. Dan dia pun menemukan dalam situs jejaring facebook. Akan tetapi, Vanessa tidak menceritakan kisah yang sebenarnya, malah menceritakan soal adiknya yang meminta bantuan untuk menghilangkan jin yang ada di dalam tubuhynya. Semua itu masih dirahasiakan Vanessa, sampai pada satu waktu dia berkata jujur bahwa dirinya sedang ada masalah. Akan tetapi, Vanessa hanya menceritakan tentang sebagian saja permasalahan yang melandanya.
"Saya tidak bisa mengendalikan emosi saya yang meluap-luap, tolong saya. Karena tekanan darah saya mulai naik." pintanya berharap dengan sangat. Dan orang yang dianggap ahli terapi pun menyanggupinya, Vanessa pun memberikan imbalan atas bantuannya karena telah menolongnya, dia diberi sebotol air yang diberi doa-doa dan diminta untuk mempraktekkan MEDITASI.
akan tetapi, kendala dialami olehnya. Vanessa tidak sanggup bermeditasi karena pikirannya tidak terfokus. Terpecah kemana-mana. Ia pun akhirnya menghentikannya, dan tidak pernah ingin melanjutkan terapi itu setelah diberitahu oleh teman indigonya bahwa mereka tidak baik.



(bersambung)

Leave a Reply

komen dong...yuk!

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Blog Vanny Chrisma W - Devil Survivor 2 - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -