Popular Post

Popular Posts

Recent post

Archive for September 2010

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Taiji, lambang tradisional untuk kekuatan Yin dan Yang
Konsep Yin Yang atau Yinyang (Hanzi: 陰陽) berasal dari filsafat Cina dan metafisika kuno yang menjelaskan setiap benda di alam semesta memiliki polaritas abadi berupa dua kekuatan utama yang selalu berlawanan tapi selalu melengkapi. Yin bersifat pasif, sedih, gelap, feminin, responsif, dan dikaitkan dengan malam. Yang bersifat aktif, terang, maskulin, agresif, dan dikaitkan dengan siang. Yin disimbolkan dengan air, sedangkan Yang disimbolkan dengan api.
Yin (feminin, hitam, bersifat pasif) dan Yang (maskulin, terang, bersifat aktif) adalah dua elemen yang saling melengkapi. Setiap kekuatan di alam dianggap memiliki keadaan Yin dan Yang.
Kemungkinan besar teori Yin dan Yang berasal dari ajaran agama agraris zaman kuno. Konsep Yin Yang dikenal dalam Taoisme dan Konfusianisme, walaupun kata Yin Yang hanya muncul sekali dalam kitab Tao Te Ching yang penuh dengan contoh dan penjelasan tentang konsep keseimbangan.
Konsep Yin Yang merupakan prinsip dasar dalam ilmu pengobatan tradisional Cina yang menetapkan setiap organ tubuh memiliki Yin dan Yang.

Yin dan Yang

Resensi Film "The Fall"

Senin, 10-12-2007 13:00:26 oleh: Oni Suryaman
Kanal: Gaya Hidup
Resensi  Film "The Fall" Film ini diputar di Jiffest 2007 tanggal 9 dan 13 Desember. Aku berkesempatan mencicipi film ini duluan di closing movie ScreamFest yang barusan berakhir di Blitz.
Film ini adalah sebuah film fantasi yang dilatarbelakangi oleh seorang anak yang patah tulang bahunya setelah jatuh yang mengunjungi secara teratur seorang pasien yang lain di rumah sakit yang sama, karena ia punya cerita yang menarik. Dan film ini menceritakan kisah sang anak dan pasien dan ceritanya secara paralel.
Salah satu keunggulan dari film ini adalah sinematografinya. Layak untuk Oscar. Sang sutradara dengan piawai mem-blend satu scene dengan scene yang lain sehingga kadang terlihat surealis. Bahkan jika Anda tidak dapat begitu mengikuti ceritanya, Anda akan tetap terpukau oleh indahnya gambar yang disuguhkan di depan Anda. Film ini dibuat di 20 negara, termasuk Indonesia, yaitu di Bali. Dan anda bisa melihat bagaimana indah dan mistisnya Bali di-blend ke dalam cerita.
Skenarionya adalah keunggulan yang kedua, karena ia begitu innocent, mengikuti sudut pandang seorang anak. Ini sungguh bukan usaha yang mudah, dan tidak banyak film yang bisa seperti itu (seperti Finding Neverland misalnya). Anda akan tertawa dan sekaligus trenyuh melihat pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dari kacamata seorang anak gadis kecil, yang kalau tersenyum kelihatan ompongnya.
Dan yang paling menarik adalah simbologinya. Sayangnya, ini mungkin kurang bisa dinikmati, mengingat simbol-simbol tersebut tidak terlalu mudah untuk dipahami kalau pengetahuan umum Anda kurang banyak. Banyak kelucuan-kelucuan kecil yang tersembunyi di sana. Saya tidak akan membeberkannya di sini karena akan mengurangi kenikmatan Anda. Begitu Anda mampu melihatnya, Anda akan tahu betapa indahnya keseluruhan film tersebut, seperti kesatuan mozaik dari pecahan kaca yang beraneka.
Secara keselurahan, ini adalah sebuah film yang luar biasa, sayang untuk dilewatkan. Entah kapan lagi Anda akan disuguhi film setaraf ini.
Nilai: 5/5
Sutradara: 5/5
Sinematografi: 5/5
Skenario: 5/5
Akting: 4/5

The Fall

TURTLES CAN FLY
Lakposhtha hâm parvaz mikonand (2004)


Written and directed by Bhaman Ghobadi

Cast :
Agrin : Avaz Latif
Satellite : Soran Ebrahim
Hengov : Hiresh Feysal Rahman
Rega : Abdol Rahman Karim
Pasheo : Sadaam Hossein Feysal
Hangao : Hiresh Feysal Rahman
Shirko : Ajil Zibari



REVIEW :
=======



TURTLES CAN FLY merupakan film pertama tentang perang di Iraq masa Invasi Amerika dibawah Presiden George W. Bush. Bolehlah dibilang saya adalah pecinta film-film Iran, sebab saya menyukai film-film yang natural dan bermuatan filosofi. Dan seperti film Iran lainnya 'Turtles Can Fly' juga menyajikan pengajaran kehidupan secara folosofis tanpa ada kesan menggurui penontonnya. Nah ini yang jarang sekali saya dapat dari film nasional kita, apalagi sinetron.

'Turtles Can Fly' menyajikan paradoks : film anak-anak yang penuh humor, manisnya adegan jenaka anak-anak, sekaligus film perang yang paling mengerikan.
Dalam film ini memang tidak ada adegan hunjaman peluru menembus batok kepala, seperti pada film Saving Private Ryan, atau semburan darah, potongan tubuh seperti di film Kingdom of Heaven, atau adegan sadisme yang lazim dalam film-film perang dengan tekhnologi mutakhir. Sebaliknya 'Turtles Can Fly' adalah sebuah film sederhana, namun secara psikologis ini memberikan dampak psikologis yang paling dalam. Meski Badan sensor film memberikan label genre 'Parental Guide', namun film ini bukan film anak-anak, melainkan seharusnya film dewasa.

'Turtles Can Fly' menyajikan peperangan yang sedemikian kuatnya berdampak pada 'innocent victims of conflict'. Ya, peperangan paling banyak menyengsarakan korban tak berdosa, terutama anak-anak. Dan secara sempurna film ini menyajikan akibat perang 'dimata anak-anak'. Sehingga saat kita menonton, secara tidak sadar kita akan digiring oleh sang sutradara 'berpikir dan berlogika secara anak-anak pula'. Inilah keistimewaan yang dimiliki film-film Iran yang sudah menjadi satu ciri khas, seperti dalam film Children of Heaven, Baran, Kandahar, Color of Paradise, Osama, dll.

Dimulai dengan adegan gadis kecil menjatuhkan diri dari sebuah tebing yang curam, film ini bercerita dengan latar belakang sebuah desa 'Iraqi Kurdistan' di perbatasan
Iran dan Turkey. Penduduk desa yang dalam suasana perang lebih mementingkan berita ketimbang sajian hiburan di TV. Untuk itulah semua penduduk desa berusaha memasang antena yang paling kuat menangkap gelombang siaran berita di televisi.
Dengan set tahun 2003 dibawah invasi Amerika, film ini menggambarkan terobsesinya orang-orang dengan berita Internasional yang didapat dari Satelit untuk mendapatkan informasi rencana Amerika kedepan dalam 'menyelamatkan' Iraq.

Seorang anak laki-laki berumur 13 tahun atau tepatnya 'de-factor leader' bagi sekumpulan anak-anak yatim-piatu di camp pengungsi, ia dipanggil dengan nama 'Satellite' karena terbiasa menerima job pemasangan antena TV, sekaligus menjadi 'translater berita' bagi penduduk desa disana. Kemudian Satellite juga menerima job pembersihan 'ranjau darat' di daerah itu. Satellite merasa terganggu dengan kehadiran seorang anak laki-laki cacat, kedua tangannya putus, yang juga menerima job pembersihan ranjau yang belum menjadi 'anggota serikat pekerja anak-anak' dibawah pimpinan Satellite. Anak cacat itu bernama Henkov yang juga adalah korban ranjau darat, sehingga kedua tangannya putus. Meski cacat Henkov rupanya ahli sekali menjinakkan ranjau.



Dilain pihak Satellite naksir berat dengan adik perempuan Henkov, Agrin yang misterius dan cantik. Kemudian Satellite juga menemukan kemampuan prophetic Henkov, yang kemudian disadarinya bahwa kemampuan supranaturalnya lebih akurat ketimbang propagandanya CNN.



Henkov dimata orang lain mempunyai 2 orang adik, yang perempuan Agrin dan adik laki-laki yang masih berumur 1tahun lebih, Rega. Kemanapun, mereka selalu bertiga. Dan si kecil Rega selalu dalam gendongan Agrin, sesekali digendong oleh Henkov yang meski 'tanpa tangan' namun cukup cekatan menggendong si kecil.



Agrin gadis kecil mungkin umurnya baru 12tahun, yang terjebak oleh ganasnya perang, kedua orang tuanya terbunuh akibat perang saudara di Iraq, dalam saat yang bersamaan ia mengalami tragedi yang lain, diperkosa beramai-ramai oleh tentara, sehingga pada usia yang sangat muda ia mempunyai anak. Oleh pengungsi lain anak dalam gendongannya itu dikira adiknya. Kehidupan serba sulit, mengungsi dengan anak dan saudara laki-laki yang cacat. Sudah berkali-kali Agrin mencoba bunuh diri karena tidak mampu menahan beban berat hidup. Namun setiap kali dia ingat kakaknya Henkov yang cacat, ia berpikir mampukah ia merawat rega anaknya? Dan ia mengurungkan niat itu. Adegan ketiga anak kecil itu kerap memancing rasa haru.

Rupanya perang zaman sekarang juga masih menggunakan jalur-jalur propaganda atau bahasa halusnya 'informasi' : "We are here to take away your sorrows!" "Those against us are our enemies. We will make this country a paradise. We are the best!" itulah bunyi leaflets yang dijatuhkan dari helikopter pasukan Amerika. Entah dalam kejadian nyata isi leaflets bunyinya begitu atau tidak, namun dengan melihat gaya American dan sikap Bush yang sedemikian, mungkin saja isi leaflets-nya begitu. Dan betapa senangnya masyarakat suku Kurdi menerima kabar bahwa keberadan mereka 'dibela' dengan akhir Saddam Hussein diturunkan dari tahta kepresidenannya. Pesan-pesan itu membawa harapan perang segera berakhir.



Kabar baik dari pasukan 'hero' itu tidak ada dampaknya ibu-muda Agrin, ia tetap tertekan, terlebih ketika ia memikirkan bagaimana nanti Rega tumbuh menjadi besar, apa pandangan orang terhadapnya. Berkali-kali Agrin mengemukakan rencananya agar meninggalkan Rega, dengan harapan bisa 'diambil/dipelihara orang lain', namun Henkov kakaknya selalu melarang, karena Henkov sangat mengasihi anak itu.

Agrin yang kehilangan masa kanak-kanak, Agrin yang memerlukan bimbingan orang-tua, ia tak mampu membereskan beban dan masalah hidupnya. Sengsara hidupnya membuyarkan semua 'natur baik' yang mungkin dimilikinya. Ia menjadi pembenci anaknya itu, ia pemurung, dan putus asa. Suasana kontradiksi, disaat masyarakat Kurdi memulai lembar baru dan menyambut jatuhnya Saddam, dengan suka-ria mendapatkan souvenir potongan patung-Saddam di ibukota yang dijatuhkan tentara Amerika. Agrin membunuh anaknya dan kemudian ia bunuh-diri. Adegan ini menyentak sekali, membuat para penonton tidak tahan dengan tragedi kematian keduanya yang ditampilkan. Akhir kisah itu sungguh mendendangkan nyanyian yang paling memilukan dan menyayat hati.

Bhaman Ghobadi's 'Turtles Can Fly' cukup menggambarkan kejadian sejarah secara instant yang merupakan one 'of the best films ever made about children in wartime'.
The Lost Memory (Memori yang hilang)
Vanessa, seorang wanita berusia 26 tahun, merasa dirinya ada masalah setelah kekasihnya berkali-kali memanggilnya gila atas tingkah lakunya yang berubah-ubah. Dia pun sering pelupa, jika mengirim pesan tak pernah ingat lagi, dan bekas pesannya pun cepat-cepat dihapus agar tidak dapat meninggalkan jejak. Vanessa pun sulit untuk diajak bersosialisasi dengan teman-teman yang lain. Jika pun mencoba untuk berkumpul, selalu ada percekcokkan besar yang membuat dirinya terisolasi dari teman-temannya. Vanessa sosok yang dibenci..., pemarah, pencuriga, dan Pemberontak. Namun terkadang ia pun sering menangis di kala berada di kesendirian. Dalam hubungan keluarganya pun dia menjadi sosok tidak disukai karena sering membantah, tidak pernah menurut dan berani pada orang yang jauh lebih tua. Dia tidak pernah pandang bulu.
Tapi, sebenarnya Vanessa mencintai kedamaian, langit dan suara-suara burung gereja yang melintas tiap pagi. Karena teguran dan ejekan dari kekasihnya itu, ia pun berusaha mencari bantuan dari mana-mana agar dapat menyembuhkan penyakit anehnya tersebut. Vanessa pun tidak menyadari bahwa ada jiwa lain di dalam tubuhnya yang mengendalikan pikiran dan tingkah lakunya sehari-hari. Pertama kalinya ia meminta bantuan 'orang pintar' untuk menghilangkan emosinya yang seringkali meledak-ledak. Berbagai terapi supranatural pun diikutinya untuk mendapatkan hasil kebaikan tersebut, agar kekasihnya tak lagi menyebutnya 'gila'.

Ternyata, selang tak berapa lama ia pun membuat masalah dengan seorang aki-aki yang diakui sakti karena tidak mau menuruti permintaan aki tersebut untuk menggunakan bunga-bunga atau semacam ritual tertentu. Vanessa membantahnya, padahal tidak ada seorangpun yang berani untuk menentang ucapan aki itu seorangpun. Hanya Vanessa yang berbicara. Kemudian, ia pun keluar dari dunia supra dan menganggap usahanya telah gagal. Pesan pribadi Vanessa diawasi dan dibaca oleh kekasihnya sendiri. Sehingga timbullah percekcokkan besar kembali. Ia pun putus asa dan menangis tiap hari di dalam kamar.

Bantuan apalagi yang harus dicarinya? Dan semakin terpuruk ketika kekasihnya mengatakan bahwa dirinya lebih cocok mendekam di Rumah Sakit Jiwa. Vanessa berusaha mencari lagi bantuan dengan mencoba untuk mendaftar di sekolah kepribadian, John Robert Power. Namun tidak diijinkan oleh kekasihnya karena harus menelan biaya berjuta-juta rupiah. Vanessa tak putus asa, ia mencari forum motivasi agar dirinya selalu dapat berpikir positif. Tapi lagi-lagi gagal oleh rasa putus asanya.
Pada suatu hari, ia bertanya pada kekasihnya lagi tentang seseorang yang bisa menghipnotis dan menghilangkan penyakit ketakutannya. Tapi, karena kekasihnya tersebut sudah trauma dan tidak ingin mendapatkan malu kembali. Maka Vanessa diminta untuk mencari tahu sendiri. Dan dia pun menemukan dalam situs jejaring facebook. Akan tetapi, Vanessa tidak menceritakan kisah yang sebenarnya, malah menceritakan soal adiknya yang meminta bantuan untuk menghilangkan jin yang ada di dalam tubuhynya. Semua itu masih dirahasiakan Vanessa, sampai pada satu waktu dia berkata jujur bahwa dirinya sedang ada masalah. Akan tetapi, Vanessa hanya menceritakan tentang sebagian saja permasalahan yang melandanya.
"Saya tidak bisa mengendalikan emosi saya yang meluap-luap, tolong saya. Karena tekanan darah saya mulai naik." pintanya berharap dengan sangat. Dan orang yang dianggap ahli terapi pun menyanggupinya, Vanessa pun memberikan imbalan atas bantuannya karena telah menolongnya, dia diberi sebotol air yang diberi doa-doa dan diminta untuk mempraktekkan MEDITASI.
akan tetapi, kendala dialami olehnya. Vanessa tidak sanggup bermeditasi karena pikirannya tidak terfokus. Terpecah kemana-mana. Ia pun akhirnya menghentikannya, dan tidak pernah ingin melanjutkan terapi itu setelah diberitahu oleh teman indigonya bahwa mereka tidak baik.



(bersambung)

- Copyright © Blog Vanny Chrisma W - Devil Survivor 2 - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -