Popular Post

Popular Posts

Recent post

Archive for 04/24/11


Segores Lidah, yang Meluka
Maaf, kalau sampai hari esok aku tidak bisa menemuimu.
Karena kau tahu, bahwa aku benar-benar terluka.
Pada kata-katamu yang selalu tersimpan dan terbayang di dalam mimpiku.
Saat kau terlupa pada siapa aku untukmu, kawan. Apa kau tahu, aku sangat mengerti dirimu.
Tapi sekali lagi, kawan...
Jangan pernah lagi menemuiku...
Hingga aku bersedia menemuimu...
Untuk sementara waktu, aku menghilang
Dari hadapanmu, dari ruang dan waktu...
Tawa, Canda tak lagi dapat kau lihat
Karena kau dengan kata-katamu,
Walau sejuta maaf kau ingin ku memaafkan dirimu
Tidak, untuk sekarang...
Biarkan aku sendiri...
Hingga matahari redup.
Dengan sendirinya, dan biarkan Kuasa Tuhan yang mengambil alih semuanya.
Ingatlah bahwa, kebaikan jangan pernah kau balas dengan kata keburukan.
Yang membuatku menderita hingga kini....
Sidoarjo, 12 Agustus 2010

Suamiku,
Katakan padaku tentang sesuatu,
kejujuran yang tak pernah kulihat dari matamu.
Pada ungkapan cinta yang tersembunyikan,
Oleh sifat ketamakan.
Suamiku,
Dengarkan isi hatiku, mengapa saat ini aku demikian ragu.
Pertanyakan kesetiaanmu.
Yang terkalahkan dengan gemerlap emas dan permata
Menutup murni hatimu...
Suamiku,
Tahukah engkau?
Kata dia, kau dulu membunuhku...
Dan kini aku menjadi sosok hantu.
Kau mencekik leherku...hingga tubuhku membiru
Tahukah kau, suamiku?
Dia berkata, kekasihku kini, di masa ini, adalah dirimu yang dulu.
Adalah suamiku.
Yang dulu pernah membunuhku.
Sidoarjo, 13 Agustus 2010

Namaku, Anabel Bella Lasiva Varozi Zika Kamelia Liang Lahat
aku dilahirkan di sebuah kota terpencil yang letaknya paling ujung bumi, tersudutlah...
Di mana sejujurnya manusia itu terbodoh, oleh pandangan matanya....
yang mengatakan, bahwa bumi itu tak berujung.
Buktinya, aku lahir di paling ujung
ujung tubuh manusia, yang namanya ujung perempuan
kata siapa bumi itu bulat sih? Bumi itu bentuknya tidaklah bulat
tapi ketika perempuan yang memendamku selama 9 bulan, itu perutnya membulat
barulah aku bisa menerima bahwa memang bumi itu bundar. sebundar perut bundaku....
Ketika kulahir, kutendang-tendang ujung perempuan itu,
aku mendengar ia mengaduh kesakitan, meringis...
mengguling-guling di atas kasur yang telah basah oleh pecahnya air ketuban
aku sempat mendengar walau tak terlalu jelas, "Bayi bangsat, belum waktunya keluar sudah mau mbrojol duluan."
Kata-kata yang indah bukan? dari ibuku loh....:)
Bayi bangsat katanya, padahal kata Tuhan ibuku itu orang baik
Baik sekali hingga aku tak pernah mengatakan itu di depannya.
Tak pernah protes, walau ia memberiku sederet nama panjang yang terdengar aneh
Dan seram...
Namaku, Anabel Bella Lasiva Varozi Zika Kamelia Liang Lahat
Ibu tak pernah menyanjungku cantik, atau bayi yang cantik...
Tapi aku menyangka, diriku cantik
Walau aku tak pernah sekalipun bisa melihat ke arah cermin...
Karena aku...terlahir tanpa mata.
Buta..., salahkah aku bila mengatakan bahwa bumi itu tidaklah bulat? dan salahkah aku jika aku menyangka diriku cantik...
Dua kalimat yang masih terus kuingat saat aku hendak menangis, kala aku merobek ujung perempuan itu...
"Bayi Bangsat!!!"
Ah...., gema suara adzan pun berkumandang, senja hari itu...
dalam kebutaan....

Ada sebuah hal besar dalam hidup kita. Ketika awalnya kita jauh dari agama, keyakinan dan iman. Apapun bentuknya. Jikalau ada, seseorang hamba membutuhkan penjelasan tentang cara bagaimana, apakah ini? apakah harus seperti ini atau itu? lalu bagaimana itu terjadi?
Ketika seseorang hamba yang sangat kehausan akan keingintahuan tentang agama, keyakinan, juga iman, pada seseorang yang dirasa dan dipikir mengerti lebih pintar daripada dia, sekedar hanya untuk menjelaskan. Apakah yang kutulis ini sudah benar? Apakah yang kupikir ini juga sudah benar adanya? Apakah aku bisa membuat ini jauh lebih baik?
Ketika ia membutuhkan bantuan dari yang merasa pintar dan menguasai ilmu-ilmu keagamaan dan sejarah itu sendiri. Saat ia benar-benar mencari bantuan, mencari tahu sebab ia takut tersalah jika ia menuliskan dengan atau tanpa keyakinan yang mantap. Maka, goyahkah keyakinan itu?
Beberapa dari mereka yang kutanya untuk sekedar berkata, "Apa yang harus kulakukan?"
Mereka menjawab, "Kerjakanlah.", dan ketika aku bertanya, "Tapi aku tidak begitu paham bagaimana." ,mereka pun menjawab, "Lihatlah buku-buku yang ada.". ketika aku bertanya lagi, "Tapi bagaimana jika aku tidak tahu tentang sesuatu hal yang tak kutahu?", mereka menjawab, "Tulislah saja.",. kemudian aku bertanya, "Bagaimana aku menulisnya jika tidak begitu paham?", mereka menjawab, "Seperti apa yang kau baca."
Dan cerita tak bisa berkembang. Benar-benar mati. Ketika akhirnya aku berpikir, "Baiklah, aku akan menulisnya. nanti setelah selesai, tinggal mengoreksi dan minta bantuan temanku yang pintar agama."
Ketika aku berusaha mencari nomor kontak teman yang pintar agama itu, bertemulah aku dengan satu teman lana dan aku meminta info agar diberi nomor ponsel temanku yang pintar agama itu. dari telepon, berkirim SMS berkali-kali, tak juga mendapat balasan. aku bertanya lagi lewat pesan, "Bisa kau beri aku nomor orang yang pintar agama?"
tak juga ada balasan. sama sekali. aku tak menyerah. kembali aku bertanya dengan mereka yang setahuku tahu tentang agama. "Ternyata harus dibeginikan." tapi mereka acuh, sebab sibuk dengan pekerjaannya sendiri. padahal, aku sangat membutuhkan pengetahuan dan keyakinan, tentang agama itu.
kemudian aku berhenti. diam, merenung. "Kenapa semua orang tak peduli jika ditanyai tentang agama, ketika ada yang benar-benar ingin tahu dan membutuhkan penjelasan agar menjadi yakin."
jika mereka sibuk dengan pekerjaannya sendiri dan tak menghiraukan seseorang yang meminta bantuannya sekedar menjelaskan "Apa kau tahu?", apakah mereka tidak bisa menjawab dengan jawaban lebih baik?, "Ya, aku tidak tahu banyak mengenai itu." apakah mereka malu hanya untuk menjawab bahwa sebenarnya mereka pula tidak tahu?
lalu, apa yang dapat kujadikan keyakinan dari mereka? yang kupikir paham dan mengerti? jika semua yang kuharap dapat memberikan jawaban. ternyata tak peduli, tak ambil pusing, peduli amat. lalu, dimanakah arti sebenarnya agama kita?
jika setitik iman kembali terang, namun setitik kemudian kembali terlelap. tatkala ia tak mendapatkan jawaban yang pasti. Apakah salah jika tergoyahkan? jikalau begini..., janganlah pernah berkata padaku, kau ahli agama.
Sidoarjo, 04 November 2010

Cemas Berbuntut Kegilaan, Benarkah?
“Pepatah bijak mengatakan bahwa, awal dari gila adalah kecemasan yang berlebihan.”
_______________
Tuhan menciptakan manusia dengan memiliki rasa yang ada di dalam hati. Pernahkah kau merasa sangat gembira hingga kau merasa seakan jantungmu meloncat ke luar dari dalam rongga dadamu. Atau mungkin sebaliknya, kau pernah merasa sedih yang demikian dalam hingga kau berpikir bahwa hanya dirimulah yang pantas dan dinobatkan sebagai orang paling menderita di dunia. Rasa, menurut kamus Bahasa Indonesia yang artinya adalah ‘Tanggapan hati melalui indera’. Dan perasaan adalah, hasil atau perbuatan merasa dengan panca indera atau juga keadaan batin sewaktu menghadapi atau merasai sesuatu.
Lalu, apakah perasaan yang paling saya dan Anda takuti dan tidak ingin mengalaminya sekalipun, akan tetapi kita malah tidak bisa menahan rasa itu yang pada akhirnya terkadang sebagian banyak orang mengalami kegagalan dalam hidupnya karena mendapat perasaan seperti yang kau alami. Dan apakah Anda pernah berpikir bahwa jika terlampau banyak memiliki rasa ‘itu’ yang mengendap di dalam jiwa Anda, apakah Anda tahu akan efek buruk di belakangnya?
Apakah perasaan itu?
Pernahkah Anda merasakan satu ketakutan yang dalam tanpa sebab oleh pikiran Anda sendiri ketika tengah memikirkan keadaan orang lain, diri sendiri ataupun mungkin sebenarnya tak ada yang perlu Anda takuti? Sesuatu perasaan yang membuat diri Anda tidak tenteram hatinya karena ketakutan tersebut? Apakah sebenarnya rasa itu? Jika saya menguraikan tentang penyakit cemas inilah jawaban dari semua pertanyaan saya kepada Anda. Dapatkah Anda menilai bahwa perasaan negatif seperti inilah yang paling banyak menyebabkan kegagalan di kemudian hari.
Adalah cemas, seperti yang diketahui bahwa cemas itu sebuah penyakit yang melanda perasaan hati dan membuat tidak tenteram karena merasa takut dan gelisah pada sesuatu hal yang mungkin saja terjadi, atau mungkin malah tak akan pernah terjadi. Sehingga seringkali Anda mengatakan pada diri sendiri termasuk saya, seperti dialog di bawah ini;
“Aku cemas, kalau nanti aku tidak bisa menjadi juara 1, pasti ibuku akan marah besar.”
“Aku cemas, kalau-kalau nanti Bos memarahiku hanya gara-gara aku datang terlambat pagi ini.”
“Aku cemas, kalau pacarku memutuskan aku tanpa sebab.”
“Aku cemas, kalau nanti ayahku marah jika aku pulang terlalu malam.”
“Aku cemas, kalau aku tidak bisa membayar hutangmu, dan kau akan membuatku tidak bisa tidur nyenyak.”
Betapa seringnya saya dan Anda sendiri mendengar orang berkata demikian pada kita, atau mungkin orang lainlah yang mendengar kecemasan kita sendiri. Jikalau dicermati kata cemas yang ada dalam dialog tersebut, apakah hal yang patut dicemasi itu sudah kiranya terjadi atau belum terjadi atau mungkin sama sekali tidak pernah terjadi?
Anggaplah jika apa yang dicemasinya itu terjadi, semisal pada kecemasan yang pertama karena takut tidak bisa menjadi juara 1, yang pastinya nanti ibunya akan marah besar. Jika memang apa yang dicemasinya itu benar-benar terjadi dan ia memang benar tidak menjadi juara 1, kemudian saat pulang ke rumah ibunya marah besar. Lalu apa yang harus dilakukan setelah semua telah terjadi, dan memang tidak mendapatkan apa yang telah diharapkan. Apakah Anda harus menangis selamanya? Menangisi kekalahan atau mungkin saja mengumpat diri sendiri atau paling buruknya mengumpat orang lain karena lebih layak mendapatkan kemenangan itu.
Jika memang berpikir kalah terlebih dahulu-lah yang menyebabkan munculnya rasa kecemasan itu. Sehingga menimbulkan rasa gelisah dan takut tanpa sebab ini dan itu, jika semua yang dipikirkannya benar-benar terjadi. Bukankah apa yang tengah dipikirkannya adalah apa yang telah ia siapkan sebelumnya? Yang arti sebenarnya adalah, berarti dia telah mempersiapkan kekalahan terlebih dahulu sebelum perlombaan itu dimulai. Sehingga dia telah menciptakan kegagalannya sendiri dan apa yang diciptakannya bukanlah gambaran kemenangan, melainkan kegagalan. Jadi, siapa yang patut disalahkan dengan kekalahan yang dialaminya? Apakah dia patut menyalahkan orang lain yang membuatnya kalah? Sehingga dia mencari kambing hitam atas kekalahan yang terjadi padanya.
Perlu diketahui dalam dunia kejiwaan, bahwa gangguan cemas menyeluruh adalah suatu kekhawatiran yang berlebihan dan dihayati disertai berbagai gejala somatik, yang menyebabkan gangguan bermakna dalam fungsi sosial atau pekerjaan atau penderitaan yang jelas bagi pasien.[1] Yang dapat membuat seseorang menjadi jatuh dan terhanyut dalam rasa cemas yang dialaminya sehingga menimbulkan gangguan fisik yang terjadi.
Seringkah kalian melihat seseorang menggigiti kuku jemari atau mengetuk-ngetukkan sepatunya hanya untuk mengalihkan rasa cemasnya? Ketika ia tak bisa mengelak dari yang namanya kenyataan yang harus dijalaninya. Kecemasan seperti itulah yang membuat mental kita jatuh terlebih dahulu dan kebanyakan akan menuai kegagalan yang utama. Paling parahnya jika kecemasan yang terjadi itu malah nantinya berbuntut pada kegilaan. Karena dia telah terlebih dahulu menciptakan kekalahan, dan kegilaan sendiri pada dirinya yang secara tak sadari ia telah benar-benar membentuknya.
Apakah yang sebaiknya saya dan Anda lakukan jika mengalami hal yang sama seperti ini? Sulitnya berpikir positif itu membuat kita akan tetap terus terkungkung dalam lingkaran setan kenegatifan perasaan. Jika terlalu larut dalam pikiran dan perasaan negatif makan akan berefek ketidaksehatan mental yang menggerogoti jiwa dan pikiran kita ketika menjalani kehidupan ini. Jika tahap cemas sampai melewati batas sehingga membuat kita sampai bermimpi buruk setiap malam hari, membayangkan kegagalan dan kekalahan sendiri. Maka lambat laun, kegilaan-lah yang akan menduduki posisi utama di dalam diri kita.
Sehingga pada akhirnya tanpa kita tahu dan sadari, kita telah menjadi gila karenanya. Untuk menghindari hal demikian, maka sebelum memulai sesuatu perlombaan atau ajang yang melibatkan diri kita, maka ciptakanlah kemenangan dan bayangkanlah kemenangan terlebih dahulu, sebab itu dapat menghilangkan rasa cemas di dalam diri kita. Ketika kita telah berpikir kemenangan, otomatis tubuh akan memproduksi energi yang kuat dan membuat adrenalin kita meningkat dan lebih dapat membuat kita bersemangat dalam menjalani setiap permasalahan hidup. Namun tak lupa harus diingat, bahwa setiap kita suatu saat akan mendapat kegagalan dan kemenangan, sebab kehidupan yang sejati itu ibarat roda yang berputar. Terkadang di atas dan di bawah. Ciptakanlah jiwa dan mental yang sehat, dan singkirkanlah rasa cemas itu jika saya atau Anda tidak ingin menjadi gila karena mencemasinya.
Sidoarjo, 10 November 2010 (Hari Pahlawan)
*
oleh: Vanny Chrisma W.
[1] Buku Kapita Selekta Kedokteran

Lebih baik Jadi Gila atau Bunuh Diri?
[Ada satu komentar di situs facebook pribadi saya, yang menanyakan soal apakah lebih baik menjadi gila atau bunuh diri?]
_____________
Sebagian orang hidup dalam keputusasaan, sebagian yang lain hidup dalam kesukaan. Metode Yin dan Yang, hidup yang seimbang. Kiri dan kanan, gelap dan putih, berat dan ringan juga tinggi dan pendek. Sebagian orang yang berputus asa di dalam hidupnya, kebanyakan mereka larut dalam kepedihan dan kelaraan hatinya sendiri. Menjadi kucil oleh persebab masalah yang besar menurut anggapannya. Sehingga tak apalah, jika memang itu sudah menjadi haknya untuk menjadi seseorang yang pantas bersedih.
Diantara mereka pastinya pula menderita tekanan mental yang amat dahsyatnya,, luka yang mengangga dan tak sanggup untuk ditambal atau bahkan dihilangkan sama sekali. Saya pula tak menampik akan rasa tertekan seperti ini. Pada dasarnya, itulah manusia. Di mana manusia itu memiliki dua karakter, yaitu karakter lemah dan kuat. Dan sebelumnya tiap manusia itu juga memiliki kepribadian yang berbeda satu sama lain. Dan terbagi menjadi empat golongan, yaitu, yang pertama. Melankolis yang memiliki sikap murung atau muram, pesimistis dan selalu menaruh rasa curiga. Kedua, Sanguinis yang selalu menunjukkan wajah yang berseri-seri, periang atau selalu gembira dan bersikap optimis. Ketiga, Flegmatisi manusia yang memiliki tipe seperti ini sifatnya lamban dan pemalas, wajahnya selalu pucat, pesimis, pembawaannya tenang, pendiriannya tidak mudah berubah. Keempat, Kolerisi biasanya tipe ini adalah orang yang memiliki tubuh besar dan kuat, namun penaik darah dan sukar mengendalikan diri, sifatnya garang dan agresif.[1]
Jika ada orang yang bertanya lebih baik mana, jadi gila atau bunuh diri? Kira-kira apa yang ada di dalam benak pikiran Anda pada kedua pilihan tersebut? Tentunya, jika disadari maka keduanya adalah sama-sama pilihan yang gila, benar bukan? Namun jika kembali ditelusuri, patut ditanya apakah orang yang bertanya itulah yang memiliki keinginan untuk bunuh diri? Ataukah sebaliknya malah ingin menjadi gila. Sebab mungkin saja ia tidak mengetahui arti dari definisi gila yang sebenarnya. Dan ingin terlepas dari beban masalah kehidupan maka ia memilih lebih baik menjadi gila. Karena dianggapnya tidaklah berdosa. Karena ketika manusia itu sudah tidak memiliki atau kehilangan akal sehatnya, maka pastinya ia menjadi gila. Dan pada dasarnya, orang gila tidak akan dihukum atas apapun yang telah dilakukannya, termasuk membunuh. Sekeji apapun dia membunuh, sebanyak apapun orang itu telah membunuh, maka ia akan terbebas dari hukuman persebab ia tidaklah waras. Namun, beberapa orang pun memanfaatkan kegilaan dalam rambah hukum, semisal ia melakukan kejahatan tingkat tinggi. Maka ia berpura-pura gila agar terbebas dari hukuman. Orang gila akan terbebas dari hukuman dunia dan akherat. Namun janganlah salah menilai bahwa, sebelum menjadi gila tentunya dia adalah orang yang waras dan sehat akalnya. Jadi hukum akherat pun masih berlaku.
Dan bagaimana dan adakah orang yang berniat untuk menjadi gila? Sebagai satu pilihan yang terbaik? Apakah sedahsyat itukah problema hidupnya hingga ia lebih memilih jalan menjadi gila daripada berusaha untuk mewaraskan pikirannya? Ketertekanan hidup dan beban yang dirasa lebih dari ukuran yang dapat ia pikul memang terkadang membuat saya, Anda tidak kuat untuk menghadapinya. Sehingga, ketika ia belum berniat menjadi gila, malah ia berniat untuk bunuh diri dengan mengikatkan seutas tali di lehernya atau mungkin mengiris urat nadi pergelangan tangannya sendiri. Dan ketika lagi, usaha bunuh diri itu gagal. Maka sepantasnyakah ia lalu berniat menjadi gila? Dapatkah ia terbebas dari permasalahannya saat ia menjadi gila sesungguhnya?
Gila, tidak ada seorang pun yang berniat untuk menjadikan dirinya sebagai orang gila. Karena penyakit gila adalah penyakit yang paling terpuncak dari penyakit kejiwaan lainnya. Sebab ia sudah tak lagi mengenal dunia nyata dan hidup dalam dunianya sendiri. Gila, apakah lebih baik dari usaha bunuh diri?
Patut diketahui bahwa, bunuh diri adalah keadaan moral, ketika orang yang bersangkutan kehilangan cita-cita, tujuan dan norma dalam hidupnya. Dimana nilai-nilai yang semua memberi motivasi dan arah kepada perilakunya, tidak berpengaruh lagi.[2] Dan saat ia menderita depresi demikian dalam, maka ia merasa tidak ada pilihan lain selain mengakhiri hidupnya dengan membunuh dirinya sendiri, agar terlepas dari masalah. Ketika ia telah mati, maka berakhirlah sudah segala urusan dunianya. Tetapi, tidak dengan urusannya pada Tuhan Sang Maha Pencipta. Sebab ia telah memperpendek usianya sendiri sebelum usia yang telah ditakdirkan untuk mati. Dosa bunuh diri tiada ampun, dan ia pun tidak diterima di sisi Tuhan karena telah berputus asa. Dan Allah Taala berfirman, “Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah 155)
Serta;
Allah Taala berfirman, Katakanlah, “Wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53)
Maka, jika kalian merasa masih memiliki pikiran yang waras. Apakah kedua pilihan antara, lebih baik mana? Jadi gila atau bunuh diri? Bukankah kedua-duanya adalah jalan menuju keputusasaan dan terputus dari rahmat Tuhan?
Vanny Chrisma W
Sidoarjo, 10 November 2010
*
[1][1] Psikologi Umum, Alex Sobur, Drs. M.Si.
[2] Psikologi Umum, tentang bab Bunuh diri

Katakan, Ya Sudahlah…
Ketika mimpimu yang begitu indah. Tak pernah terwujud…, ya sudahlah.
Saat kau berlari, mengejar anganmu. Dan tak pernah sampai, ya sudahlah…”[Bondan Prakoso]
______________
Lets go to get our dreams!
Kadangkala, ketika kita tengah memiliki impian yang terasa begitu indah dan tinggi. Dan kita merasa telah berusaha demikian kerasnya, memberikan beribu pengorbanan yang terlihat maupun yang tak terlihat. Yang juga terkadang diiringi dengan canda, tawa serta tangisan yang mungkin lebih banyak tangisan yang menyertai perjuangan kita agar dapat meraih impian tersebut. Namun, ketika kita tengah berharap pada Tuhan, memunajatkan diri pada-Nya agar doa kita dikabulkan setelah bersusah payah berikhtiar sesuai perintahnya, dan terakhir kalinya cukup bertawakal atau memasrahkan pada Yang Kuasa. Lalu berhenti, tepat pada titik itu. Tawakal. Berserah diri, pasrah.
Keputusan ada pada Allah Taala.
Dalam arti kamus Bahasa Indonesia, makna ‘Tawakal’ tak lain adalah, berserah kepada kehendak Allah; percaya dengan sepenuh hati kepada Allah. Sebab manusia sudah merasa telah cukup berusaha sampai titik itu, maka setelah itu ia menyerahkannya pada Tuhan begitu mudahnya. Bahkan tak jarang dari kita pun atau Anda mengucapkan atau mendengar perkataan seperti ini;
“Aku sudah cukup berusaha, selebihnya aku pasrahkan pada Allah Taala.”
“Pengorbananku untuk meraih impian ini sudah besar, sekarang aku tinggal menunggu keputusan Allah.”
Dan yang paling parah jika ada yang menyerahkan pada Tuhan namun sekaligus mengutuk Tuhan dengan kata-kata yang keji dan tak pantas didengar. Kita berserah, artinya kita telah siap menerima hasil dari apa yang telah kita upayakan. Apakah nantinya berhasil atau tidaknya. Kita berserah pula berarti menandakan mental kita telah benar-benar siap untuk itu. Mengetahui bahwa kemungkinan berhasil itu pasti ada, begitu pula sebaliknya, kegagalan itu juga tentunya pasti ada. Ada orang berkata bahwa dia menyerahkan semua keputusan pada Tuhannya. Namun ketika ia mendapatkan hasil yang tak seperti yang diinginkannya, maka dia berkoar-koar,
“Tuhan itu tidak adil! Tuhan itu keji! Tuhan itu tak punya perasaan…bla…bla…bla
Segala umpatan pun terlontar dari mulutnya yang busuk dibelakang. Manusia yang tidak siap menerima apapun akhirnya akan menjadi seperti itu. Ia mencaci apapun seenak nya, mencari kambing hitam agar ia tidak dapat dipersalahkan, sebab ia telah merasa berusaha sedemikian hebatnya dan berjuang sampai titik darah penghabisan.
Tahu-tahu, Tuhan tidak mengabulkan doanya. Berikut semua terjadi dikarenakan ia tidak mengerti arti sebenarnya dari kata Pasrah’ itu sendiri. Banyak orang di sekitar kita menjadi gila dan kehilangan kewarasannya persebab ia tidak bisa menerima kenyataan kegagalan yang dialaminya. Karena apa? Karena mereka tidak mengerti sejatinya apa itu bertawakal sesungguhnya. Pasrah, berserah. Menyerahkan segala keputusan pada Sang Khalik. Tidak dapat diganggu gugat, tidak dapat disuap dengan apapun, tidak dapat ditipu.
Pasrah adalah, menyerahkan sepenuhnya. Saya menuliskan beberapa kali agar Anda benar-benar mengetahui makna dibalik pasrah itu sesungguhnya. Ketika kita dapat mengukur upaya kita sedemikian besarnya pengorbanan kita hanya untuk mendapatkan sesuatu itu. Maka, apakah kalian tahu ukuran Tuhan untuk menilai apakah benar bahwa pengorbananmu itu telah cukup dan sudah patut berhenti hanya pada satu titik itu?
Apakah kalian tahu, berapa batas ukuran Tuhan menilai jerih payah kita, atau upaya kita dengan mengusahakan semaksimal mungkin, sehingga kita pantas mengatakan bahwa upaya kita itu memang telah ‘cukup’? sehingga kita patut untuk berhenti. Dan menunggu hasilnya…., yang kita serahkan kepada Tuhan itu.
Lalu bagaimana jika, ternyata dari keputusan Tuhan itu memberikan kita bentuk kegagalan? Dan bagaimana jika, ternyata Tuhan memutuskan untuk memberhasilkan kita sebab kita memang patut untuk mendapatkannya? Jika gagal, apakah yang akan terjadi setelah itu? Bisa ditebak jika Anda-anda sekalian pastinya mengalami kekecewaan yang mendalam, sehingga harus gigit jari dan apa yang telah dikorbankan itu tidak akan pernah kembali lagi. Sia-sia. Mungkin saja, diantaranya mengalami goncangan jiwa, tertekan, depresi hingga sampai kehilangan akal sehatnya. Karena merasa apa yang dimilikinya sudah lenyap.
Salahkah Tuhan memberikan keputusan kegagalan itu? Pada Anda yang sudah seperti sebelumnya berkata, bahwa cukuplah saya berupaya. Dan tinggal menyerahkan pada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Apakah ketika gagal, Anda tidak berpikir bahwa mungkin saja apa yang telah diupayakan itu ternyata masih belum maksimal untuk ukuran yang dinilai Tuhan pada Anda. Sehingga mendapatkan kegagalan itu sudahlah pantas untuk Anda terima. Jika berhasil, maka artinya Tuhan telah menilai bahwa upaya Anda memang benar-benar patut mendapatkan hasil karena sesuai dengan ukuran Tuhan. Siapa yang tahu seberapa besar upaya kita, jika yang mampu melihat adalah Tuhan sendiri.
Dan ketika mimpi kita tidak dapat terwujud, bukan berarti kita telah gagal dan berhenti sampai di situ. Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa, upayakan semaksimal mungkin untuk meraih mimpi itu. Dan jangan pernah berkata cukup ketika kau hendak ingin berhenti berupaya, sebab itu artinya, kau telah lelah melanjutkan perjalanan pengorbananmu untuk meraih impian tersebut.
Jangan pernah berdalih berkata, “Cukuplah saya berusaha, keputusan saya serahkan kepada Tuhan.”
Sebab yang tahu seberapa besar ukuran Tuhan menilai upaya kita, adalah bukan manusia. Tetapi Tuhan Yang Maha Tahu apa yang kalian kerjakan. Dan Allah Taala berfirman;
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rejekinya.”(QS. Hud: 6)
Ketika kita telah berserah, maka keputusan ada di tangan-Nya. Dan bersiaplah untuk mendapatkan dua kemungkinan, yaitu keberhasilan dan kegagalan. Kemudian ingatlah penggalan dari lirik lagu ini,
Ketika mimpimu yang begitu indah. Tak pernah terwujud…, ya sudahlah.
Saat kau berlari, mengejar anganmu. Dan tak pernah sampai, ya sudahlah
Sidoarjo, 10 November 2010
By: Vanny Chrisma W.

maria mercedes pa' servirle a ustedTambah Gambar
de mi familia me encargo yo
mi madre nos abandonó
porque mi padre jamás cumplió
maria mercedes pa' servirle a usted
un buen dia mi son cambió
compró un cachito y me conoció
y al morir un montón me heredó
* maria mercedes pa' servirle a usted
que rico son el que bailo yo
el abile que alivia cualquier dolor
su ritmo calienta mi corazón
maria mercedes,
la vida te premiará
tú ya lo verás
maria mercedes,
tu amor te corresponderá
maria mercedes...
mi felicidad el dinero no compró
pues al hombre que amo no lo tengo yo...
maria mercedes...maria mercedes *
maria mercedes...si señor!!!

- Copyright © Blog Vanny Chrisma W - Devil Survivor 2 - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -