Popular Post

Popular Posts

Recent post

Archive for April 2011


26 April 2011
Catatan rumah tak bersenja:


duniaku, duniamu...

pada senja tertutup tirai,

tak pernah kusaksi aura merahmu,

melihat peraduan dari sang penyinar bumi...


duniaku, duniaku...

ketika pagi jelang,
kutak sigap datang

terlelap dalam lelah dan peluh,
ku kehilangan pagi...


duniaku, dunianya...

suara bising alunan musik,

tak bangunkan engkau
dari lelap panjang
terpejam demikian lamanya...
hingga siang pun meraja duniaku,

duniamu, dunianya
ketika senja datang,
engkau terbangun terkejut saat,
kemudian menangis hilang pagi,
hilang siang,
lewatlah senja malam terbangun,
di balik tirai engkau terisak,
bagaimana rupa rumah tak melihat senja
jika engkau tertahan dalam penjara

Rumah tak melihat senja


Jika nanti aku punya bayi...
perempuan, kau Khadijah
laki-laki, kau Muhammad

dua nama satu kisah..., paling menggetarkan jiwa terasa pesona.

jika nanti aku punya bayi
perempuan, kau cantik
laki-laki, kau bijaksana

dua sifat satu kisah, antara yang cantik dan bijaksana, tersatu menjadi satu,

sejarah tak terhilangkan, oleh waktu...
samar pun tak akan lupa, wahai namamu
untuk puteriku, Khadijah
wahai namamu untuk puteraku, Muhammad... dalam sebuah buku hadiah pernikahan, The Story of You, Khadijah & Muhammad SAW...

Kos Pasutri...

apa sih yang terbayang di dalam benak kalian ketika baru saja menjalani hidup baru. dan harus rela tinggal di manapun sesuai keinginan suami?

hantu?
takut preman?
atau malah takut sama kecoak?
hahaha..., benar!

ada kalanya ketakutan seorang wanita yang baru saja dilantik menjadi seorang isteri adalah ketakutan pada perasaannya sendiri.

mereka takut lantaran baru saja berpisah dari tangan orangtuanya dan wajib sendirian dan bertanggung jawab pada diri sendiri dan untuk suaminya.

jikalau dari kecil sudah manja, maka besarnya pun juga susah. apalagi yang masih jadi anak mama. so.., yang terbayang pertama kali dalam pikiranku 2 minggu after merried is..., saya takut ditinggal sendirian oleh suami.

kalo pulang kerja malem banget sudah nangis-nangis, SMS macem2 sampe minta dibelikan makanan, duh...manjanya ga ketulungan... maklum anak mama...,

perasaan waktu pertama kali hidup dan tinggal di dalam ruang sebesar 6 x 8 meter saja, just in the room, not yang lain:D

penghibur hanya sebuah laptop mini buat tugas menulis buku, TV hape yang kalo liat harus mentengin mata abis tu ngga sadar pasti ketiduran deh^_^ ahahaha...,

klutuk-klutuk dibangun sama suami. ato gantian aku yang bangunin suami cuma minta, biar ditemenin di luar kamar mandi, pas mau pipis... aduh..., hahaha, penyakit manja ini sangat berbahaya, 1 ato 2 minggu sih adaptasi masih tak masalah... kalo sudah berbulan-bulan masih tetap seperti itu? hahahaha...hidup di dalam kos apa bedanya dengan taman kanak-kanak ya?

salam hangat,


pengantin baru

Segores Lidah, yang Meluka
Maaf, kalau sampai hari esok aku tidak bisa menemuimu.
Karena kau tahu, bahwa aku benar-benar terluka.
Pada kata-katamu yang selalu tersimpan dan terbayang di dalam mimpiku.
Saat kau terlupa pada siapa aku untukmu, kawan. Apa kau tahu, aku sangat mengerti dirimu.
Tapi sekali lagi, kawan...
Jangan pernah lagi menemuiku...
Hingga aku bersedia menemuimu...
Untuk sementara waktu, aku menghilang
Dari hadapanmu, dari ruang dan waktu...
Tawa, Canda tak lagi dapat kau lihat
Karena kau dengan kata-katamu,
Walau sejuta maaf kau ingin ku memaafkan dirimu
Tidak, untuk sekarang...
Biarkan aku sendiri...
Hingga matahari redup.
Dengan sendirinya, dan biarkan Kuasa Tuhan yang mengambil alih semuanya.
Ingatlah bahwa, kebaikan jangan pernah kau balas dengan kata keburukan.
Yang membuatku menderita hingga kini....
Sidoarjo, 12 Agustus 2010

Suamiku,
Katakan padaku tentang sesuatu,
kejujuran yang tak pernah kulihat dari matamu.
Pada ungkapan cinta yang tersembunyikan,
Oleh sifat ketamakan.
Suamiku,
Dengarkan isi hatiku, mengapa saat ini aku demikian ragu.
Pertanyakan kesetiaanmu.
Yang terkalahkan dengan gemerlap emas dan permata
Menutup murni hatimu...
Suamiku,
Tahukah engkau?
Kata dia, kau dulu membunuhku...
Dan kini aku menjadi sosok hantu.
Kau mencekik leherku...hingga tubuhku membiru
Tahukah kau, suamiku?
Dia berkata, kekasihku kini, di masa ini, adalah dirimu yang dulu.
Adalah suamiku.
Yang dulu pernah membunuhku.
Sidoarjo, 13 Agustus 2010

Namaku, Anabel Bella Lasiva Varozi Zika Kamelia Liang Lahat
aku dilahirkan di sebuah kota terpencil yang letaknya paling ujung bumi, tersudutlah...
Di mana sejujurnya manusia itu terbodoh, oleh pandangan matanya....
yang mengatakan, bahwa bumi itu tak berujung.
Buktinya, aku lahir di paling ujung
ujung tubuh manusia, yang namanya ujung perempuan
kata siapa bumi itu bulat sih? Bumi itu bentuknya tidaklah bulat
tapi ketika perempuan yang memendamku selama 9 bulan, itu perutnya membulat
barulah aku bisa menerima bahwa memang bumi itu bundar. sebundar perut bundaku....
Ketika kulahir, kutendang-tendang ujung perempuan itu,
aku mendengar ia mengaduh kesakitan, meringis...
mengguling-guling di atas kasur yang telah basah oleh pecahnya air ketuban
aku sempat mendengar walau tak terlalu jelas, "Bayi bangsat, belum waktunya keluar sudah mau mbrojol duluan."
Kata-kata yang indah bukan? dari ibuku loh....:)
Bayi bangsat katanya, padahal kata Tuhan ibuku itu orang baik
Baik sekali hingga aku tak pernah mengatakan itu di depannya.
Tak pernah protes, walau ia memberiku sederet nama panjang yang terdengar aneh
Dan seram...
Namaku, Anabel Bella Lasiva Varozi Zika Kamelia Liang Lahat
Ibu tak pernah menyanjungku cantik, atau bayi yang cantik...
Tapi aku menyangka, diriku cantik
Walau aku tak pernah sekalipun bisa melihat ke arah cermin...
Karena aku...terlahir tanpa mata.
Buta..., salahkah aku bila mengatakan bahwa bumi itu tidaklah bulat? dan salahkah aku jika aku menyangka diriku cantik...
Dua kalimat yang masih terus kuingat saat aku hendak menangis, kala aku merobek ujung perempuan itu...
"Bayi Bangsat!!!"
Ah...., gema suara adzan pun berkumandang, senja hari itu...
dalam kebutaan....

Ada sebuah hal besar dalam hidup kita. Ketika awalnya kita jauh dari agama, keyakinan dan iman. Apapun bentuknya. Jikalau ada, seseorang hamba membutuhkan penjelasan tentang cara bagaimana, apakah ini? apakah harus seperti ini atau itu? lalu bagaimana itu terjadi?
Ketika seseorang hamba yang sangat kehausan akan keingintahuan tentang agama, keyakinan, juga iman, pada seseorang yang dirasa dan dipikir mengerti lebih pintar daripada dia, sekedar hanya untuk menjelaskan. Apakah yang kutulis ini sudah benar? Apakah yang kupikir ini juga sudah benar adanya? Apakah aku bisa membuat ini jauh lebih baik?
Ketika ia membutuhkan bantuan dari yang merasa pintar dan menguasai ilmu-ilmu keagamaan dan sejarah itu sendiri. Saat ia benar-benar mencari bantuan, mencari tahu sebab ia takut tersalah jika ia menuliskan dengan atau tanpa keyakinan yang mantap. Maka, goyahkah keyakinan itu?
Beberapa dari mereka yang kutanya untuk sekedar berkata, "Apa yang harus kulakukan?"
Mereka menjawab, "Kerjakanlah.", dan ketika aku bertanya, "Tapi aku tidak begitu paham bagaimana." ,mereka pun menjawab, "Lihatlah buku-buku yang ada.". ketika aku bertanya lagi, "Tapi bagaimana jika aku tidak tahu tentang sesuatu hal yang tak kutahu?", mereka menjawab, "Tulislah saja.",. kemudian aku bertanya, "Bagaimana aku menulisnya jika tidak begitu paham?", mereka menjawab, "Seperti apa yang kau baca."
Dan cerita tak bisa berkembang. Benar-benar mati. Ketika akhirnya aku berpikir, "Baiklah, aku akan menulisnya. nanti setelah selesai, tinggal mengoreksi dan minta bantuan temanku yang pintar agama."
Ketika aku berusaha mencari nomor kontak teman yang pintar agama itu, bertemulah aku dengan satu teman lana dan aku meminta info agar diberi nomor ponsel temanku yang pintar agama itu. dari telepon, berkirim SMS berkali-kali, tak juga mendapat balasan. aku bertanya lagi lewat pesan, "Bisa kau beri aku nomor orang yang pintar agama?"
tak juga ada balasan. sama sekali. aku tak menyerah. kembali aku bertanya dengan mereka yang setahuku tahu tentang agama. "Ternyata harus dibeginikan." tapi mereka acuh, sebab sibuk dengan pekerjaannya sendiri. padahal, aku sangat membutuhkan pengetahuan dan keyakinan, tentang agama itu.
kemudian aku berhenti. diam, merenung. "Kenapa semua orang tak peduli jika ditanyai tentang agama, ketika ada yang benar-benar ingin tahu dan membutuhkan penjelasan agar menjadi yakin."
jika mereka sibuk dengan pekerjaannya sendiri dan tak menghiraukan seseorang yang meminta bantuannya sekedar menjelaskan "Apa kau tahu?", apakah mereka tidak bisa menjawab dengan jawaban lebih baik?, "Ya, aku tidak tahu banyak mengenai itu." apakah mereka malu hanya untuk menjawab bahwa sebenarnya mereka pula tidak tahu?
lalu, apa yang dapat kujadikan keyakinan dari mereka? yang kupikir paham dan mengerti? jika semua yang kuharap dapat memberikan jawaban. ternyata tak peduli, tak ambil pusing, peduli amat. lalu, dimanakah arti sebenarnya agama kita?
jika setitik iman kembali terang, namun setitik kemudian kembali terlelap. tatkala ia tak mendapatkan jawaban yang pasti. Apakah salah jika tergoyahkan? jikalau begini..., janganlah pernah berkata padaku, kau ahli agama.
Sidoarjo, 04 November 2010

Cemas Berbuntut Kegilaan, Benarkah?
“Pepatah bijak mengatakan bahwa, awal dari gila adalah kecemasan yang berlebihan.”
_______________
Tuhan menciptakan manusia dengan memiliki rasa yang ada di dalam hati. Pernahkah kau merasa sangat gembira hingga kau merasa seakan jantungmu meloncat ke luar dari dalam rongga dadamu. Atau mungkin sebaliknya, kau pernah merasa sedih yang demikian dalam hingga kau berpikir bahwa hanya dirimulah yang pantas dan dinobatkan sebagai orang paling menderita di dunia. Rasa, menurut kamus Bahasa Indonesia yang artinya adalah ‘Tanggapan hati melalui indera’. Dan perasaan adalah, hasil atau perbuatan merasa dengan panca indera atau juga keadaan batin sewaktu menghadapi atau merasai sesuatu.
Lalu, apakah perasaan yang paling saya dan Anda takuti dan tidak ingin mengalaminya sekalipun, akan tetapi kita malah tidak bisa menahan rasa itu yang pada akhirnya terkadang sebagian banyak orang mengalami kegagalan dalam hidupnya karena mendapat perasaan seperti yang kau alami. Dan apakah Anda pernah berpikir bahwa jika terlampau banyak memiliki rasa ‘itu’ yang mengendap di dalam jiwa Anda, apakah Anda tahu akan efek buruk di belakangnya?
Apakah perasaan itu?
Pernahkah Anda merasakan satu ketakutan yang dalam tanpa sebab oleh pikiran Anda sendiri ketika tengah memikirkan keadaan orang lain, diri sendiri ataupun mungkin sebenarnya tak ada yang perlu Anda takuti? Sesuatu perasaan yang membuat diri Anda tidak tenteram hatinya karena ketakutan tersebut? Apakah sebenarnya rasa itu? Jika saya menguraikan tentang penyakit cemas inilah jawaban dari semua pertanyaan saya kepada Anda. Dapatkah Anda menilai bahwa perasaan negatif seperti inilah yang paling banyak menyebabkan kegagalan di kemudian hari.
Adalah cemas, seperti yang diketahui bahwa cemas itu sebuah penyakit yang melanda perasaan hati dan membuat tidak tenteram karena merasa takut dan gelisah pada sesuatu hal yang mungkin saja terjadi, atau mungkin malah tak akan pernah terjadi. Sehingga seringkali Anda mengatakan pada diri sendiri termasuk saya, seperti dialog di bawah ini;
“Aku cemas, kalau nanti aku tidak bisa menjadi juara 1, pasti ibuku akan marah besar.”
“Aku cemas, kalau-kalau nanti Bos memarahiku hanya gara-gara aku datang terlambat pagi ini.”
“Aku cemas, kalau pacarku memutuskan aku tanpa sebab.”
“Aku cemas, kalau nanti ayahku marah jika aku pulang terlalu malam.”
“Aku cemas, kalau aku tidak bisa membayar hutangmu, dan kau akan membuatku tidak bisa tidur nyenyak.”
Betapa seringnya saya dan Anda sendiri mendengar orang berkata demikian pada kita, atau mungkin orang lainlah yang mendengar kecemasan kita sendiri. Jikalau dicermati kata cemas yang ada dalam dialog tersebut, apakah hal yang patut dicemasi itu sudah kiranya terjadi atau belum terjadi atau mungkin sama sekali tidak pernah terjadi?
Anggaplah jika apa yang dicemasinya itu terjadi, semisal pada kecemasan yang pertama karena takut tidak bisa menjadi juara 1, yang pastinya nanti ibunya akan marah besar. Jika memang apa yang dicemasinya itu benar-benar terjadi dan ia memang benar tidak menjadi juara 1, kemudian saat pulang ke rumah ibunya marah besar. Lalu apa yang harus dilakukan setelah semua telah terjadi, dan memang tidak mendapatkan apa yang telah diharapkan. Apakah Anda harus menangis selamanya? Menangisi kekalahan atau mungkin saja mengumpat diri sendiri atau paling buruknya mengumpat orang lain karena lebih layak mendapatkan kemenangan itu.
Jika memang berpikir kalah terlebih dahulu-lah yang menyebabkan munculnya rasa kecemasan itu. Sehingga menimbulkan rasa gelisah dan takut tanpa sebab ini dan itu, jika semua yang dipikirkannya benar-benar terjadi. Bukankah apa yang tengah dipikirkannya adalah apa yang telah ia siapkan sebelumnya? Yang arti sebenarnya adalah, berarti dia telah mempersiapkan kekalahan terlebih dahulu sebelum perlombaan itu dimulai. Sehingga dia telah menciptakan kegagalannya sendiri dan apa yang diciptakannya bukanlah gambaran kemenangan, melainkan kegagalan. Jadi, siapa yang patut disalahkan dengan kekalahan yang dialaminya? Apakah dia patut menyalahkan orang lain yang membuatnya kalah? Sehingga dia mencari kambing hitam atas kekalahan yang terjadi padanya.
Perlu diketahui dalam dunia kejiwaan, bahwa gangguan cemas menyeluruh adalah suatu kekhawatiran yang berlebihan dan dihayati disertai berbagai gejala somatik, yang menyebabkan gangguan bermakna dalam fungsi sosial atau pekerjaan atau penderitaan yang jelas bagi pasien.[1] Yang dapat membuat seseorang menjadi jatuh dan terhanyut dalam rasa cemas yang dialaminya sehingga menimbulkan gangguan fisik yang terjadi.
Seringkah kalian melihat seseorang menggigiti kuku jemari atau mengetuk-ngetukkan sepatunya hanya untuk mengalihkan rasa cemasnya? Ketika ia tak bisa mengelak dari yang namanya kenyataan yang harus dijalaninya. Kecemasan seperti itulah yang membuat mental kita jatuh terlebih dahulu dan kebanyakan akan menuai kegagalan yang utama. Paling parahnya jika kecemasan yang terjadi itu malah nantinya berbuntut pada kegilaan. Karena dia telah terlebih dahulu menciptakan kekalahan, dan kegilaan sendiri pada dirinya yang secara tak sadari ia telah benar-benar membentuknya.
Apakah yang sebaiknya saya dan Anda lakukan jika mengalami hal yang sama seperti ini? Sulitnya berpikir positif itu membuat kita akan tetap terus terkungkung dalam lingkaran setan kenegatifan perasaan. Jika terlalu larut dalam pikiran dan perasaan negatif makan akan berefek ketidaksehatan mental yang menggerogoti jiwa dan pikiran kita ketika menjalani kehidupan ini. Jika tahap cemas sampai melewati batas sehingga membuat kita sampai bermimpi buruk setiap malam hari, membayangkan kegagalan dan kekalahan sendiri. Maka lambat laun, kegilaan-lah yang akan menduduki posisi utama di dalam diri kita.
Sehingga pada akhirnya tanpa kita tahu dan sadari, kita telah menjadi gila karenanya. Untuk menghindari hal demikian, maka sebelum memulai sesuatu perlombaan atau ajang yang melibatkan diri kita, maka ciptakanlah kemenangan dan bayangkanlah kemenangan terlebih dahulu, sebab itu dapat menghilangkan rasa cemas di dalam diri kita. Ketika kita telah berpikir kemenangan, otomatis tubuh akan memproduksi energi yang kuat dan membuat adrenalin kita meningkat dan lebih dapat membuat kita bersemangat dalam menjalani setiap permasalahan hidup. Namun tak lupa harus diingat, bahwa setiap kita suatu saat akan mendapat kegagalan dan kemenangan, sebab kehidupan yang sejati itu ibarat roda yang berputar. Terkadang di atas dan di bawah. Ciptakanlah jiwa dan mental yang sehat, dan singkirkanlah rasa cemas itu jika saya atau Anda tidak ingin menjadi gila karena mencemasinya.
Sidoarjo, 10 November 2010 (Hari Pahlawan)
*
oleh: Vanny Chrisma W.
[1] Buku Kapita Selekta Kedokteran

Lebih baik Jadi Gila atau Bunuh Diri?
[Ada satu komentar di situs facebook pribadi saya, yang menanyakan soal apakah lebih baik menjadi gila atau bunuh diri?]
_____________
Sebagian orang hidup dalam keputusasaan, sebagian yang lain hidup dalam kesukaan. Metode Yin dan Yang, hidup yang seimbang. Kiri dan kanan, gelap dan putih, berat dan ringan juga tinggi dan pendek. Sebagian orang yang berputus asa di dalam hidupnya, kebanyakan mereka larut dalam kepedihan dan kelaraan hatinya sendiri. Menjadi kucil oleh persebab masalah yang besar menurut anggapannya. Sehingga tak apalah, jika memang itu sudah menjadi haknya untuk menjadi seseorang yang pantas bersedih.
Diantara mereka pastinya pula menderita tekanan mental yang amat dahsyatnya,, luka yang mengangga dan tak sanggup untuk ditambal atau bahkan dihilangkan sama sekali. Saya pula tak menampik akan rasa tertekan seperti ini. Pada dasarnya, itulah manusia. Di mana manusia itu memiliki dua karakter, yaitu karakter lemah dan kuat. Dan sebelumnya tiap manusia itu juga memiliki kepribadian yang berbeda satu sama lain. Dan terbagi menjadi empat golongan, yaitu, yang pertama. Melankolis yang memiliki sikap murung atau muram, pesimistis dan selalu menaruh rasa curiga. Kedua, Sanguinis yang selalu menunjukkan wajah yang berseri-seri, periang atau selalu gembira dan bersikap optimis. Ketiga, Flegmatisi manusia yang memiliki tipe seperti ini sifatnya lamban dan pemalas, wajahnya selalu pucat, pesimis, pembawaannya tenang, pendiriannya tidak mudah berubah. Keempat, Kolerisi biasanya tipe ini adalah orang yang memiliki tubuh besar dan kuat, namun penaik darah dan sukar mengendalikan diri, sifatnya garang dan agresif.[1]
Jika ada orang yang bertanya lebih baik mana, jadi gila atau bunuh diri? Kira-kira apa yang ada di dalam benak pikiran Anda pada kedua pilihan tersebut? Tentunya, jika disadari maka keduanya adalah sama-sama pilihan yang gila, benar bukan? Namun jika kembali ditelusuri, patut ditanya apakah orang yang bertanya itulah yang memiliki keinginan untuk bunuh diri? Ataukah sebaliknya malah ingin menjadi gila. Sebab mungkin saja ia tidak mengetahui arti dari definisi gila yang sebenarnya. Dan ingin terlepas dari beban masalah kehidupan maka ia memilih lebih baik menjadi gila. Karena dianggapnya tidaklah berdosa. Karena ketika manusia itu sudah tidak memiliki atau kehilangan akal sehatnya, maka pastinya ia menjadi gila. Dan pada dasarnya, orang gila tidak akan dihukum atas apapun yang telah dilakukannya, termasuk membunuh. Sekeji apapun dia membunuh, sebanyak apapun orang itu telah membunuh, maka ia akan terbebas dari hukuman persebab ia tidaklah waras. Namun, beberapa orang pun memanfaatkan kegilaan dalam rambah hukum, semisal ia melakukan kejahatan tingkat tinggi. Maka ia berpura-pura gila agar terbebas dari hukuman. Orang gila akan terbebas dari hukuman dunia dan akherat. Namun janganlah salah menilai bahwa, sebelum menjadi gila tentunya dia adalah orang yang waras dan sehat akalnya. Jadi hukum akherat pun masih berlaku.
Dan bagaimana dan adakah orang yang berniat untuk menjadi gila? Sebagai satu pilihan yang terbaik? Apakah sedahsyat itukah problema hidupnya hingga ia lebih memilih jalan menjadi gila daripada berusaha untuk mewaraskan pikirannya? Ketertekanan hidup dan beban yang dirasa lebih dari ukuran yang dapat ia pikul memang terkadang membuat saya, Anda tidak kuat untuk menghadapinya. Sehingga, ketika ia belum berniat menjadi gila, malah ia berniat untuk bunuh diri dengan mengikatkan seutas tali di lehernya atau mungkin mengiris urat nadi pergelangan tangannya sendiri. Dan ketika lagi, usaha bunuh diri itu gagal. Maka sepantasnyakah ia lalu berniat menjadi gila? Dapatkah ia terbebas dari permasalahannya saat ia menjadi gila sesungguhnya?
Gila, tidak ada seorang pun yang berniat untuk menjadikan dirinya sebagai orang gila. Karena penyakit gila adalah penyakit yang paling terpuncak dari penyakit kejiwaan lainnya. Sebab ia sudah tak lagi mengenal dunia nyata dan hidup dalam dunianya sendiri. Gila, apakah lebih baik dari usaha bunuh diri?
Patut diketahui bahwa, bunuh diri adalah keadaan moral, ketika orang yang bersangkutan kehilangan cita-cita, tujuan dan norma dalam hidupnya. Dimana nilai-nilai yang semua memberi motivasi dan arah kepada perilakunya, tidak berpengaruh lagi.[2] Dan saat ia menderita depresi demikian dalam, maka ia merasa tidak ada pilihan lain selain mengakhiri hidupnya dengan membunuh dirinya sendiri, agar terlepas dari masalah. Ketika ia telah mati, maka berakhirlah sudah segala urusan dunianya. Tetapi, tidak dengan urusannya pada Tuhan Sang Maha Pencipta. Sebab ia telah memperpendek usianya sendiri sebelum usia yang telah ditakdirkan untuk mati. Dosa bunuh diri tiada ampun, dan ia pun tidak diterima di sisi Tuhan karena telah berputus asa. Dan Allah Taala berfirman, “Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah 155)
Serta;
Allah Taala berfirman, Katakanlah, “Wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Az Zumar: 53)
Maka, jika kalian merasa masih memiliki pikiran yang waras. Apakah kedua pilihan antara, lebih baik mana? Jadi gila atau bunuh diri? Bukankah kedua-duanya adalah jalan menuju keputusasaan dan terputus dari rahmat Tuhan?
Vanny Chrisma W
Sidoarjo, 10 November 2010
*
[1][1] Psikologi Umum, Alex Sobur, Drs. M.Si.
[2] Psikologi Umum, tentang bab Bunuh diri

Katakan, Ya Sudahlah…
Ketika mimpimu yang begitu indah. Tak pernah terwujud…, ya sudahlah.
Saat kau berlari, mengejar anganmu. Dan tak pernah sampai, ya sudahlah…”[Bondan Prakoso]
______________
Lets go to get our dreams!
Kadangkala, ketika kita tengah memiliki impian yang terasa begitu indah dan tinggi. Dan kita merasa telah berusaha demikian kerasnya, memberikan beribu pengorbanan yang terlihat maupun yang tak terlihat. Yang juga terkadang diiringi dengan canda, tawa serta tangisan yang mungkin lebih banyak tangisan yang menyertai perjuangan kita agar dapat meraih impian tersebut. Namun, ketika kita tengah berharap pada Tuhan, memunajatkan diri pada-Nya agar doa kita dikabulkan setelah bersusah payah berikhtiar sesuai perintahnya, dan terakhir kalinya cukup bertawakal atau memasrahkan pada Yang Kuasa. Lalu berhenti, tepat pada titik itu. Tawakal. Berserah diri, pasrah.
Keputusan ada pada Allah Taala.
Dalam arti kamus Bahasa Indonesia, makna ‘Tawakal’ tak lain adalah, berserah kepada kehendak Allah; percaya dengan sepenuh hati kepada Allah. Sebab manusia sudah merasa telah cukup berusaha sampai titik itu, maka setelah itu ia menyerahkannya pada Tuhan begitu mudahnya. Bahkan tak jarang dari kita pun atau Anda mengucapkan atau mendengar perkataan seperti ini;
“Aku sudah cukup berusaha, selebihnya aku pasrahkan pada Allah Taala.”
“Pengorbananku untuk meraih impian ini sudah besar, sekarang aku tinggal menunggu keputusan Allah.”
Dan yang paling parah jika ada yang menyerahkan pada Tuhan namun sekaligus mengutuk Tuhan dengan kata-kata yang keji dan tak pantas didengar. Kita berserah, artinya kita telah siap menerima hasil dari apa yang telah kita upayakan. Apakah nantinya berhasil atau tidaknya. Kita berserah pula berarti menandakan mental kita telah benar-benar siap untuk itu. Mengetahui bahwa kemungkinan berhasil itu pasti ada, begitu pula sebaliknya, kegagalan itu juga tentunya pasti ada. Ada orang berkata bahwa dia menyerahkan semua keputusan pada Tuhannya. Namun ketika ia mendapatkan hasil yang tak seperti yang diinginkannya, maka dia berkoar-koar,
“Tuhan itu tidak adil! Tuhan itu keji! Tuhan itu tak punya perasaan…bla…bla…bla
Segala umpatan pun terlontar dari mulutnya yang busuk dibelakang. Manusia yang tidak siap menerima apapun akhirnya akan menjadi seperti itu. Ia mencaci apapun seenak nya, mencari kambing hitam agar ia tidak dapat dipersalahkan, sebab ia telah merasa berusaha sedemikian hebatnya dan berjuang sampai titik darah penghabisan.
Tahu-tahu, Tuhan tidak mengabulkan doanya. Berikut semua terjadi dikarenakan ia tidak mengerti arti sebenarnya dari kata Pasrah’ itu sendiri. Banyak orang di sekitar kita menjadi gila dan kehilangan kewarasannya persebab ia tidak bisa menerima kenyataan kegagalan yang dialaminya. Karena apa? Karena mereka tidak mengerti sejatinya apa itu bertawakal sesungguhnya. Pasrah, berserah. Menyerahkan segala keputusan pada Sang Khalik. Tidak dapat diganggu gugat, tidak dapat disuap dengan apapun, tidak dapat ditipu.
Pasrah adalah, menyerahkan sepenuhnya. Saya menuliskan beberapa kali agar Anda benar-benar mengetahui makna dibalik pasrah itu sesungguhnya. Ketika kita dapat mengukur upaya kita sedemikian besarnya pengorbanan kita hanya untuk mendapatkan sesuatu itu. Maka, apakah kalian tahu ukuran Tuhan untuk menilai apakah benar bahwa pengorbananmu itu telah cukup dan sudah patut berhenti hanya pada satu titik itu?
Apakah kalian tahu, berapa batas ukuran Tuhan menilai jerih payah kita, atau upaya kita dengan mengusahakan semaksimal mungkin, sehingga kita pantas mengatakan bahwa upaya kita itu memang telah ‘cukup’? sehingga kita patut untuk berhenti. Dan menunggu hasilnya…., yang kita serahkan kepada Tuhan itu.
Lalu bagaimana jika, ternyata dari keputusan Tuhan itu memberikan kita bentuk kegagalan? Dan bagaimana jika, ternyata Tuhan memutuskan untuk memberhasilkan kita sebab kita memang patut untuk mendapatkannya? Jika gagal, apakah yang akan terjadi setelah itu? Bisa ditebak jika Anda-anda sekalian pastinya mengalami kekecewaan yang mendalam, sehingga harus gigit jari dan apa yang telah dikorbankan itu tidak akan pernah kembali lagi. Sia-sia. Mungkin saja, diantaranya mengalami goncangan jiwa, tertekan, depresi hingga sampai kehilangan akal sehatnya. Karena merasa apa yang dimilikinya sudah lenyap.
Salahkah Tuhan memberikan keputusan kegagalan itu? Pada Anda yang sudah seperti sebelumnya berkata, bahwa cukuplah saya berupaya. Dan tinggal menyerahkan pada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Apakah ketika gagal, Anda tidak berpikir bahwa mungkin saja apa yang telah diupayakan itu ternyata masih belum maksimal untuk ukuran yang dinilai Tuhan pada Anda. Sehingga mendapatkan kegagalan itu sudahlah pantas untuk Anda terima. Jika berhasil, maka artinya Tuhan telah menilai bahwa upaya Anda memang benar-benar patut mendapatkan hasil karena sesuai dengan ukuran Tuhan. Siapa yang tahu seberapa besar upaya kita, jika yang mampu melihat adalah Tuhan sendiri.
Dan ketika mimpi kita tidak dapat terwujud, bukan berarti kita telah gagal dan berhenti sampai di situ. Seperti yang dijelaskan sebelumnya bahwa, upayakan semaksimal mungkin untuk meraih mimpi itu. Dan jangan pernah berkata cukup ketika kau hendak ingin berhenti berupaya, sebab itu artinya, kau telah lelah melanjutkan perjalanan pengorbananmu untuk meraih impian tersebut.
Jangan pernah berdalih berkata, “Cukuplah saya berusaha, keputusan saya serahkan kepada Tuhan.”
Sebab yang tahu seberapa besar ukuran Tuhan menilai upaya kita, adalah bukan manusia. Tetapi Tuhan Yang Maha Tahu apa yang kalian kerjakan. Dan Allah Taala berfirman;
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rejekinya.”(QS. Hud: 6)
Ketika kita telah berserah, maka keputusan ada di tangan-Nya. Dan bersiaplah untuk mendapatkan dua kemungkinan, yaitu keberhasilan dan kegagalan. Kemudian ingatlah penggalan dari lirik lagu ini,
Ketika mimpimu yang begitu indah. Tak pernah terwujud…, ya sudahlah.
Saat kau berlari, mengejar anganmu. Dan tak pernah sampai, ya sudahlah
Sidoarjo, 10 November 2010
By: Vanny Chrisma W.

maria mercedes pa' servirle a ustedTambah Gambar
de mi familia me encargo yo
mi madre nos abandonó
porque mi padre jamás cumplió
maria mercedes pa' servirle a usted
un buen dia mi son cambió
compró un cachito y me conoció
y al morir un montón me heredó
* maria mercedes pa' servirle a usted
que rico son el que bailo yo
el abile que alivia cualquier dolor
su ritmo calienta mi corazón
maria mercedes,
la vida te premiará
tú ya lo verás
maria mercedes,
tu amor te corresponderá
maria mercedes...
mi felicidad el dinero no compró
pues al hombre que amo no lo tengo yo...
maria mercedes...maria mercedes *
maria mercedes...si señor!!!

Ya Tuhan, maafkan aku...
karena telah membuat orang itu cemas atas ucapanku,
harusnya aku yang bersalah,
karena tak mengambil hewan kesayangan NabiMu...
Terbayang-bayang akan tangisan seekor kucing yang sebelumnya seakan memanggil-manggil namaku ketika aku tengah sibuk menelpon di dalam KBU wartel setelah mampir di toko, pulsa habis dan hendak mengisinya pula. Ketika aku tengah asyik berbincang-bincang untuk menanyakan tentang kisah motivasi yang sedang kutulis. Dalam seiring percakapan tersebut, aku mendengar suara tangisan seekor kucing yang meminta belas kasihan, mencari ibunya dan meminta makan.
aku bertanya dalam hati, "Kucing siapa itu kok menangis?" , saya tahu apakah itu tangisan kucing atau sekedar kucing yang meminta perhatian orang, atau kucing yang lagi ingin kawin. Spontan saya menebak bahwa kucing itu tengah menangis, benar-benar menangis. sebab suaranya terdengar pilu, walau yang terdengar hanya bunyi, "Ngeong" saja. Tapi aku mengerti artinya, sebab sejak dulu aku memelihara kucing dan mencintai kucing.
Malam itu, adalah detik kematianmu. bahkan aku tak bisa menebak bahwa itu adalah detik kematianmu, maka kau menangis pilu sepilu-pilunya. tak pernah aku mendengar suara kucing sesedih ini. Aku masih tetap sibuk berbicara di dalam dan berniat untuk mengambil kucing itu selepas aku menyelesaikan urusanku. hatiku seakan memaksa agar lekas keluar dan mencari kucing yang ada di luar. Setelah aku keluar dan membayar biaya pulsa pada sang pemilik wartel tersebut dan akan mengisi ulang pulsa. aku masih mendengar suara kucing itu, tapi aku masih menahan diri untuk keluar sebab aku sedang menunggu kembalian uang.
tak ada lima menit, suara tangisan kucing itu menghilang. aku tak menduga dan masih menunggu kembalian si ibu pemilik pulsa. tiba-tiba sebuah sepeda motor berhenti di depan rumah ibu itu, sedang aku masih berdiri diam. lelaki itu masuk ke dalam dengan tergesa-gesa mencari si ibu;
"Maaf, Bu. Punya kantong plastik?" tanyanya dengan napas terengah-engah dan ketakutan.
ibu itu bertanya, "Untuk apa, Pak?"
entah kenapa saat itu aku merasa telingaku tidak mendengar apa-apa, aku tidak mendengar bahwa mereka sedang memperbincangkan kucing itu.
dan ketika aku tersadar dari lamunan, aku keluar melihat apa yang sedang 2 orang itu lakukan.
"Ada apa sih, tante?" tanyaku heran.
"Nabrak kucing?" jawabnya.
aku diam tertegun, termangu, menahan rasa pedih di hati. Ah, bukankah ini kucing yang kudengar tadi dan hendak kuambil selepas ini?
Kenapa mati?
pengendara sepeda motor itulah yang menabraknya dan dia terlihat amat kebingungan untuk berbuat apa. Karena aku kesal dan marah tapi tertahan, aku berkata pada orang itu,
"Jiah, bapak menabrak kucing hitam. biasanya dapat sial setelah ini, ah, kenapa tidak lihat jalan?"
bapak itu menjawab gemetar, "Tadi saya...saya kira, saya ...kira itu tikus karena warnanya hitam."
"Walaupun tikus tetap tidak boleh ditabrak, Pak."
"Saya berusaha menghindari tapi..tapi..."
Ah, bapak itu bohong, memang di jalan di rumahku sering dipakai ngebut-ngebutan, dia berdalih, pikirku. sudah membunuh masih cari alasan juga.
"Dikubur lo, Pak."
"Iya, ini mau dikubur,"
"Jangan sama kantong plastiknya, jangan dibuang di tempat pembuangan."
"Iya...," jawabnya gemetar.
kemudian ketika tubuh kucing yang sudah tergeletak tanpa nyawa itu dimasukkan ke dalam kantong plastik berdobel 3. aku kembali berkata padanya,
"Darahnya, Pak. Darahnya disiram pasir. Biar kering."
Dengan gesit bapak itu menuruti perintahku, dengan sepasang tangannya dia mengambil segenggam pasir untuk menutupi darah si kucing yang bercecer di jalanan. setelah itu, ketika telah selesai urusanku, dan hendak pulang. aku melihat suara meong kucing lain di atas teras rumah orang.
keluarga si kucing lain, tengah menyaksikan kejadian pembunuhan kucing itu dan menyanyi sedih pula. aku menatap ke atas dan melihat seekor kucing kecil tengah melihatku. aku seakan merasa bersalah.
harusnya kucing itu tidak mati jika aku cepat mengambilnya, tapi aku tidak tahu bahwa kucing itu kucing hitam. kata orang, kucing hitam itu kucing sihir, kucing yang dimasuki roh halus. kucing yang jadi sembahan sesajen-sajen. Sebab Ia Hitam.
Dan aku mengumpat dalam hati, "Semoga orang yang menabrak itu sial setelah ini, kucing itu...ah, kasian sekali."
aku mengirim sms ke teman-teman menceritakan kematian si kucing, dan semuanya bilang, "Nanti dia ketiban sial."
aku berkata, "Ya, semoga begitu."
tak bisa tidur setelahnya, tak bisa tidur, terbayang-bayang kematian si kucing dan suara tangisannya yang pilu, meminta pertolonganku. tapi aku terlalu sibuk dengan urusanku hingga tak lekas mengambilnya. bahwa dia tengah ketakutan, saat sesosok malaikat maut hendak datang menjemputnya, dan ia butuh aku untuk menyelamatkannya. sedetik, semenit itu pula ia menghilang, nyawanya melesat terbang tinggi jauh....
jauuh sekali...sekali...dan sangat jauh, hingga aku terus menatap langit hitam itu....
ah, harusnya kenapa kau tak masuk saja dan mendatangiku? ah, kenapa pengendara motor itu melindas tubuh kecilmu, sungguh kejam nian. ia tidak punya mata.
tapi, setelah aku merenung, yang ternyata tidak punya hati adalah aku. sebab aku tak lekas tanggap menghampirimu seperti biasa kulakukan pada kucing-kucing lainnya ketika mendengar suara meongnya.
sungguh, aku merasa bersalah pada kucing itu, dan mencari kambing hitam atas kematiannya. apalagi aku mengutuk pengendara itu akan ketiban sial, ah..betapa bodohnya aku, bagaimana jika ucapanku ini membuat si penabrak kucing itu sakit dan menderita dalam hidupnya. menjadi sugesti, terngiang-ngiang sebab ucapanku yang tak dipikir.
bahwa mitos itu tak benar adanya, bahwa aku terlupa. pada Tuhan yang telah menciptakan kelahiran, kematian semua makhlukNya dengan cara apapun yang telah dikehendakiNya dan tertulis di kalam.
dan seharusnya, jika saja aku mampu memundurkan sedikit waktu saja, lima menit saja Tuhan...., aku akan mengambil seekor kucing hitam yang menangis itu.
"Ah, sebab ia hitam. dan aku percaya mitos itu."
ah, betapa bodohnya aku yang mempercayai keburukan daripada Keyakinanku pada Tuhan. lalu, bagaimana kondisi yang menabrak kucing itu, apakah dia masih mengingat ucapanku padanya.
"Bapak, maafkan saya ya. seharusnya sayalah yang patut dipersalahkan."
untuk menebus dosaku, aku akan memelihara seekor kucing hitam awal tahun depan.
Sidoarjo, 11 November 2010
Vanny Chrisma W.

Sebab Ia Hitam


FITNAH...
apakah yang engkau ketahui tentang Fitnah?
Bahaya dari Fitnah?
apa itu Fitnah?
Apa sebab dari Fitnah?
dan apa akibat dari Fitnah?
serta kenapa terjadi Fitnah?
FITNAH....
kata orang, fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan. apalagi jika fitnah tersebut memang benar-benar fitnah dan kebohongan yang diada-adakan untuk menghasut orang agar orang lain itu tidak suka pada kita.
FITNAH...
pernahkah engkau terdampar oleh sebuah fitnah?
yang mencoreng nama baik dan dirimu sendiri pada orang lain, atas hal yang tidak engkau lakukan sendiri...
lalu apa yang terjadi pada dirimu?
dengan fitnah yang kau terima...?
FITNAH...
dosa fitnah lebih besar, apa kau tahu sebabnya?
sebab dari fitnah akan timbul satu kekacauan besar, krisis kepercayaan, dan juga tidak adanya tali silaturahim kembali yang terjalin baik seperti dulu.
Fitnah, ingatlah akan lidahmu. tak bertulang tapi menyakitkan...
tapi, jika berita yang tersiar itu benar adanya, itu bukanlah sebuah FITNAH..., tetapi AIB.
Sesungguhnya datangnya Aib pada dirimu adalah untuk menyadarkanmu akan suatu kesalahan. Jika engkau merasa malu karena mendapatkan Aib. maka bersihkanlah dengan cara sesuci-sucinya, setiap manusia pasti memiliki kesalahan.
yang terkadang orang lain harus mengetahui akan kesalahan itu, untuk memberikan kesadaran bahwa kita tersalah...
tapi bedakanlah antara menyebar fitnah dengan menyebar aib.
Fitnah adalah tuduhan tanpa bukti, dan menyebar aib adalah menyebarkan keburukan kita atau orang lain. kedua hal tersebut sama-sama mendapat dosa jika dilakukan.
tapi belajarlah untuk memberikan pemecahan, solusi pada orang-orang yang membutuhkan bantuan, untuk menghindari Fitnah, dan aib yang telah tersebar kemana-mana.
karena kadang kita lupa, apa yang telah dikatakan. pada apa dan bagaimana dan untuk apa kita berbicara. apakah untuk kebaikan?
Ditujukan untuk:
FITNAH & AIB
*Janganlah suka memfitnah orang
*Tutuplah aib serapat-rapatnya...
tapi bedakan antara orang yang sedang mencurahkan permasalahannya karena ia tidak mampu untuk selesaikan dan membutuhkan bantuan orang lain.
jadi jangan samakan mereka yang bercurhat itu menyebar aib....
ditujukan agar tidak terjadi Fitnah dan menjadi aib untuk kita semua

Anoreksia
Anoreksia adalah kelainan psikis yang diderita seseorang berupa kekurangan nafsu makan meski sebenarnya lapar dan berselera terhadap makanan. Kondisi ini biasanya ditandai beberapa gejala psikologis seperti ingin memiliki tubuh kurus, takut berlebihan terhadap kegemukan, menolak untuk mempertahankan berat badan yang normal, hilangnya siklus menstruasi, mempelajari tentang makanan dan kalori secara berlebihan dan menyembunyikan atau sengaja membuang makanan.
Sekitar 95 persen penderita anoreksia adalah perempuan berstatus sosial ekonomi menengah ke atas. Kelainan ini mulai muncul di masa remaja dan kadang di masa dewasa. Anoreksia bisa bersifat ringan, hanya sementara atau berat dan berlangsung lama.
Penyebab dari anoreksia hingga kini belum diketahui. Tetapi para ahli kesehatan berpendapat bahwa faktor sosial memegang peranan penting dari anoreksia. Biasanya para penderita ingin menjadi kurus karena merasa kegemukan.
Penderita menganggap dirinya tidak menarik, tidak sehat dan juga tidak diinginkan. Penderita anoreksia bisa mengalami dehidrasi dan cenderung sering pingsan. Kelainan ini juga memicu kematian mendadak karena irama jantung yang tidak normal.
Gejala Anoreksia biasanya terjadi karena meningkatnya perhatian secara berlebihan pada makanan dan berat badan. Meskipun sudah kurus tapi tetap merasa gemuk, selalu menyangkal kalau dirinya sudah kurus, melakukan olahraga berlebihan untuk mengendalikan berat badan, tidak mengeluh meski nafsu makan dan berat badan berkurang.
Untuk pengobatannya adalah mengembalikan berat badan normal. Jika berat badan turun sangat cepat atau banyak (sampai 25 persen dibawah berat badan normal) maka sangat disarankan untuk mengembalikan bobot tubuh ke berat normal. Pengobatan awal biasanya dilakukan di rumah sakit, kadang diberikan makanan berupa infus atau selang nasogastrik.
Cara kedua adalah dengan melakukan terapi psikis yang disertai pemberian obat. Apabila status gizinya sudah baik maka terapi akan dimulai oleh psikolog. Terapi ini bisa berupa psikoterapi individual, kelompok atau keluarga. Jadi alangkah lebih baik jika anda tidak terlalu memikirkan performance yang sempurna, apabila hal itu hanya akan merugikan diri sendiri. Yang terpenting adalah kecantikan dalam diri anda yang akan tetap bersinar indah.
perempuan.com
==================
Takut gemuk, padahal tubuh sudah terlampau kurus #_#, ya itulah yang jadi hal terbesar dalam diriku ketika itu mungkin sampai sekarang.
kenapa orang takut gemuk? karena kebanyakan orang tidak suka dengan tubuh gemuk yang banyak lemak. Takut gemuk, padahal beratku sudah 43 kg. harusnya dengan tinggi 161 cm beratku normal adalah sekitar 50 atau 55 kg. Banyak orang menyarankan aku untuk minum susu, tapi aku menghindarinya persebab itu.
1. baunya mual
2. lemaknya banyak
3. membuat tubuh jadi gemuk
4. susu akan menyebabkan aku tidak berselera makan dengan makanan lainnya tanpa nasi, sebab sudah terasa penuh padahal aku menggilai makanan.
5. Susu selalu identik dengan gemuk!
"Aku takut gemuk!" ketika orang2 sedang makan bersamaku di rumah makan atau warung, saat memesan menu ayam bakar. dan saat telah tersaji, orang di sekitarku dan didepanku pun mengernyitkan alis dan bertanya,
saat aku membelah jadi dua semangkuk nasi putih itu dengan sendok.
"Kenapa kamu bagi 2?"
"Ah, aku takut kalau tidak habis karena lambungku kecil." ucapku berdalih, "daripada nanti tidak habis, lebih baik sisanya kuberikan padamu."
temanku itu pun geleng2 kepala kemudian berkata,
"Pantaslah kamu tidak pernah bisa gemuk, nasi saja kamu bagi 2."
"Ah, kau saja yang tidak tahu bahwa sebenarnya aku suka makan. tapi kalau melihat sesuatu yang banyak, perutku jadi mual."
"Kau sudah kurus, kenapa diet?"
"Aku tidak diet, aku makan sejak dulu seperti ini. Aku tidak pernah merasa bahwa ada yang salah dengan bentuk tubuhku. aku memakai baju pun tidak terlihat kurus, jadi sebenarnya siapa yang salah?" ucapku membela diri. Walau sebenarnya, saat aku menatap cermin dan melihat tulang rongga dada yang tampak itu ketika memakai baju yang belahan sedikit ke bawah, aku merasa "Tubuhku sekurus inikah?"
tapi aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika tubuhku gemuk?
jadi aku menolak untuk minum susu. susu, aku mual dengan cairan kental berlemak itu. pikirku, yang penting ngemil saja toh pasti sudah gemuk.
kembali temanku memperhatikan kulit wajahku yang terlihat kering dan kusam,
"Harusnya kau lebih memperhatikan kulitmu,"
sekali lagi, kenapa dia harus berceloteh terus di saat aku sedang asyik melahap makanan?
aku pun geram, "Ok, kau adalah orang ke seribu yang selalu protes pada tubuhku. jika nanti aku benar2 minum susu dan gemuklah badanku, apa kau senang?"
"Tentu saja senang, sebab ada perubahan dari bentuk tubuhmu."
"Baiklah, mulai hari ini aku akan minum susu."
=======
3 bulan berjalan....
Aku mengonsumsi obat cina yang kupesan lewat internet yang janjinya dapat menggemukkan tubuh dalam waktu 3 bulan, sebutir demi sebutir kutenggak pil itu hanya agar mereka senang jika aku benar-benar telah gemuk! dan, naiklah berat badanku mencapai 15 kg tanpa diduga. bahkan sedikit melebihi normal.
mereka pun senang karena akhirnya aku memiliki "Daging" atau kelihatan ada dagingnya. daripada sebelumnya ketika aku masih seperti tulang belulang. aku menggemukkan badan dengan tangisan, kenapa mereka harus terus berbicara dan mengejekku seperti itu?
bukankah aku tak pernah mengejek mereka?
setelah aku merasa gemuk, obat itu tak lagi kuminum. dan aku makan seperti biasanya, tetapi ajaibnya, hanya dalam hitungan seminggu berat badanku naik 1 kg!!! ini artinya dalam sebulan akan terus naik 4 kg. dan bulan ke depan akan naik terus dan terus!!!!!
oh, Tuhannnn!!! Tidak! Aku kegemukan...
==================
kembali aku diajak makan di kantin:
tubuhku yang gemuk menarik perhatian mereka dan saling mencibir,
"Wih, endute..., wih lemune, wih gemuknya, makkkk!"
aku melirik ke arah temanku yang dulunya memaksaku untuk minum susu.
"Aku gemuk kan? apa pendapat mereka?"
temanku hanya diam saja sambil memperhatikan pipiku yang tembem.
"Kau kelebihan berat badan,"
"Ini kan kemauanmu, dan kemauan mereka. lalu apa aku salah?"
"Sepertinya...kau harus menguruskan sedikit."
"Apa?!!!"
==================
(diary)
Oh, inikah semacam kutukan? aku menuruti apa kata mereka agar aku bisa gemuk seperti yang mereka inginkan. tapi, saat aku gemuk mereka pun menghinaku.
sebenarnya, apa salahku dalam hal ini, Tuhan...
mereka tetap terus membicarakan tentang berat badanku...aku benci...benci sekali!!!!
==================
keesokan harinya,
aku memutuskan untuk menjalani diet, dan apa kalian tahu apa tanggapan mereka?
"Wah, bagus itu kau diet, biar tubuhmu tidak kegemukan!!!"
selama hampir 3 bulan lamanya aku menghindari makan..., bahkan semangkuk nasi pun kubelah jadi 4. aku hanya makan sesendok dua sendok, hingga akhirnya aku hanya makan buah-buahan yang berair.
beratku kembali turun dan menjadi 43 kg. Di mana itu adalah beratku yang dulu mereka hina. aku dehidrasi....kulitku semakin kering. dan akhirnya aku pingsan.
===================
Tak ada satupun dari mereka yang berbicara, ketika melihatku tergeletak lemah tak berdaya di ranjang rumah sakit. aku berkata padanya,
"Ini adalah kemauan kalian, dan aku menurutinya."
Sidoarjo, 22 Desember 2010
ps: buat mereka yang suka berceloteh...pada yang namanya berat badan....aku muak!!!

Pada Mesem...
ku punya tulisan...
jangan tersenyum dan jangan merengut...
ada seorang perempuan dan laki-laki,
di tangan mereka membawa sebuah terompet...
yang akan ditiup tepat pukul 24.00 dan 00.00
perempuan itu berkata,
"Mas, apa harapan kita di tahun esok, 2011?"
laki-laki itu menjawab,
"Dek, Mas ingin meminangmu di tahun 2011 nanti."
perempuan itu tersenyum menyeringai...
"Ah, Mas..., masak sih mas lupa?"
laki-laki itu mengernyitkan alis keheranan,
"Lupa apa tho Dek?"
perempuan itu membuang sebuah terompet yang di bawanya dan dilemparkan di wajah si lelaki.
"Mas lupa ya? tahun kemarin Mas juga bilang gitu, sekarang gitu lagi. Mana? Kemarin bilang katanya tahun ini menikah, toh nyatanya ga jadi terus. tahun depan janji gitu lagi...! Gombal!"
laki-laki itu menggaruk-garuk rambutnya yang tidak gatal,
"Dek, bukannya Mas ni bohong. tapi hutang mas tahun ini aja belum lunas,"
perempuan itu mesem... lalu berkata,
"Kalo gitu,berharaplah hutangmu lunas saja! nggak usah pake janjiin nikah-nikah segala! Sekarang, kita putus!!!" sang perempuan itu pun bergegas pergi meninggalkan si lelaki yang di tangannya masih memegang terompetnya.
"Dek, jangan pergi!!!"
namun, si perempuan tetap tidak mau menoleh ke belakang, ia tidak mau diberikan janji-janji palsu setiap akhir tahun yang didengarnya dari mulut sang kekasih. lelaki itu pun berusaha untuk mengejarnya, kemudian langkahnya dihentikan oleh si perempuan yang tiba-tiba membalikkan badannya,
sambil mesem ia pun berkata,
"Mas, keinginanku di akhir tahun ini, adalah putus denganmu. TITIK! SLAMAT TINGGAL!"
lelaki itu pun terdiam seribu bahasa, kaki dan tangannya pun bergetar, sedang lidahnya terasa kelu dan tidakdapat berucap apa-apa. ia masih tetap menggenggam terompetnya, melihat kekasihnya telah menjauh pergi. air mata pun mengalir deras.
harusnya ia tak pernah berjanji tiap akhir taun dan untuk awal tahun, jika yang terjadi tetaplah sama. Kini,di akhir tahun dan di awal tahun, ia telah kehilangan harapan-harapan itu. dan juga sosok kekasih yang dicintainya sekian lama.
ketika....di akhir tahun ini, lelaki itu melihat semua orang, pada mesem menyaksikan kerlipan-kerlipan cahaya bintang dan suara mercon yang berlomba-lomba membisingkan telinga.
ia menangis di dalam hatinya....
kecut....rasa ini....
sidoarjo, 31 Januari 2010...penghujung tahun

Aku tahu diriku mulai hancur
ketika semua melihat ku tak mampu
arungi hidup...
pada mula, senyuman tersungging
di baris bibir yang indah,
terbesit rasa apakah ku kian merasa dicintai
sedalam itu...
Sedalamnya ku berusaha,
mengerti engkau dan mereka...
sulit...rasa hati dan jiwa melabuh
pada cinta dirimu...
melabuhkan hati,
tak semudah yang kulangkah...
gurat-gurat kesedihan dan tangis,
lara...sendu, malapetaka...
jika dari engkau tak rasa diriku,
berkorban demi cinta...
oh, bukan cinta...
cinta tak berdosa...cinta tak berdarah
hanya rasa dalam jiwa penuh tangis...
ketika,
aku tahu diriku mulai hancur
karenamu....

Pada kekasih bualan, di ujung sana...
yang bukan jadi kekasihku....
sidoarjo, 05 Januari 2011
Di sana, kau berkata, "Kenapa kau masih bersama dia?"
di sini aku berkata, "Kenapa pula kau tak pernah ada di sampingku?"
di sana, kau berkata lagi, "Jika kau sudah tak lagi bersama dia, maka aku akan di sampingmu."
Di sini, aku berkata padamu, "Mungkinkah ucapanmu bisa dipertanggung jawabkan?"
di sana, kau berkata sambil tersenyum, "Pastilah, Sayang. jika kau sudah tak bersama dia lagi untuk selamanya."
di sini, aku berkata dengan penuh ragu, "Apakah sampai saat ini kau masih menanti diriku?"
di sana, kau berkata dengan nada desahan, "Ah, percayalah padaku. untuk apa aku berbohong?"
di sini, aku berkata sambil mulai berpikir, "Bisakah aku mempercayaimu?"
di sana, kau berkata penuh merayu, "Percayalah, kapan aku pernah bohong padamu?"
di sini, aku terdiam, kemudian berkata, "Bukankah, kau adalah seorang yang suka membual?"
di sana, kau berkata dengan sedikit gugup, "Jika kau tidak percaya, ya sudah. tetaplah bersama dengan dia."
di sini, aku mengelus dada lalu berkata, "Terima kasih, aku tak butuh bualanmu."
THE END

Baru saja sekitar 2 jam yang lalu, sebelum akhirnya aku memutuskan untuk membeli es krim Conello. Untuk hilangkan rasa penat dan otak yang hampir umep ini. Aku menghubungi kekasihku, dan berkata padanya,
"Mas, sebentar lagi aku off nggak nulis lagi, waktuku kian habis untuk berpikir dan berpikir, dan berpikir. Bahkan saat aku tidur pun mimpiku pun berpikir pula. Sampai saking stresnya nyasar ke sarang hantu." jelasku.
dia berkata, "Kau selalu ngambek dan berhenti di tengah jalan, kamu terlalu banyak bermain, bla...bla...bla...""
Aku diam bukan berarti aku malas, aku jalan-jalan bukan berarti aku cuci mata tapi cuci buku. Pikiranku terus berjalan hingga aku tak sanggup untuk memberhentikannya, kapan aku bisa berhenti dari rutinitas ini? Aku ingin berganti profesi.
""Ganti profesi menjadi apa?
""Marketing, yah jualan lah...
""Kamu mana bisa jualan?"
"Bisalah, terus aku kerja apa kalo nggak nulis lagi?"
"Ah, sudah kamu berhenti semuanya saja, nggak usah ngapa2in.
"KLETEK..
dia marah, kekasihku marah saat aku bernegoisasi dengannya atas hidup dan masa depanku.
Begini, Sayang. Maksudku itu berhenti menulis beberapa waktu mungkin 1 tahun dan lebih, sebab aku perlu merefreshkan isi dan memori yang terkadang hang...hang, Sayang...ini yang kadang buat aku ingin off.
walau perjuangan menjadi penulis itu susahnya bukan main jika aku kembali mengingatnya.aku hanya ingin, memeluk boneka sapiku dan tidur...lepas dari penat. penat itu memang hantu buatku, karena pastinya aku akan berkeluh kesah, karena aku tak ingin mengeluh maka aku ingin berhenti.bagaimana ini? aku sudah tak suka lagi dengan kegiatan ini, bahkan hingga saat ini aku tak punya banyak waktu untuk menulis puisi,
Sayang...dapatkah kau mengerti... bahwa hidup di dunia ini memang indah jika diiringi dengan uang dan kesuksesan, tapi...kadang aku hanya ingin tidur tenang, itu saja.saat bangun, aku melihat buku2 di meja itu rapi, dan bukan tercecer di lantai dalam kondisi terbuka dan morat-marit. gelas yang kosong dan bekas kemarin. kantong plastik kue dan sebagainya.aku ingin harum, rapi dan tenang.
Jika aku berhenti, janganlah marah padaku. Sebab aku hanya ingin beristirahat...aku perlu mendinginkan kepala yang panas....aku berhenti bukannya meninggal dunia dalam profesi. tapi aku berhenti karena ingin ingin sekali, merasakan bahwa jemariku ini meminta istirahat...dan aku ingin....mengajar saja, iya, aku ingin menjadi pengajar saja...bolehkan?
Vanny Chrisma W..
.harapan....

Ibu...
bisakah aku berkata tentang sesuatu padamu?
bahwa saat masih berada dalam kandunganmu,aku hanyalah seorang bayi...
setelah aku terlahir dari rahimmu, maka aku adalah anakmu...
ketika aku menyusu padamu, aku yakinkan diriku siapapun engkau, kau adalah ibuku.
saat aku tak ingin lagi merasakan air susu, kau gantikan dengan air teh hangat...
yang kusuka..sampai sekarang...
Ibu...
bisakah aku berkata tentang sesuatu padamu?
bahwa ketika aku belajar berjalan, pasti sering terjatuh dan menangis...
kau dekap aku walau setitik pula kau cubit aku karena terlalu malas untuk berjalan dan ingin selalu,
selalu ada di pelukanmu, aku malas lepas darimu, wahai ibuku...
hingga aku merasa, bahwa kakimu adalah kakiku...
jika sakit maka aku pun juga sakit...
ibu...
bisakah aku berkata tentang sesuatu padamu?
bahwa kau mengenalkanku akan arti saudara, yang lain dariku,dan mereka jua anakmu.
kau bagi rasa kasihmu dan berupaya seadil-adilnya agar tak ada satupun yang iri hati...
jika melihat kasihmu terlalu berlebih padaku...
walau aku tahu kau benar-benar sangat menyayangiku,
karena aku terlalu lemah pikir engkau saat itu.
aku tak bisa kuat jika tanpa hadirnya engkau...
ibu....
bisakah aku berkata tentang sesuatu padamu?
bahwa engkaulah yang selalu setia mencucikan pakaianku, hingga sekarang
saat aku sudah bisa dianggap dewasa, karena usia..
tapi, aku masih tetap kanak-kanak dalam dirimu.
hingga kau berkata, "Belajarlah mandiri, jika nanti ibu sudah tidak ada, siapa yang akan urus dirimu?"
ibu...
ketika itu apakah engkau tahu bahwa aku merasa sangat ketakutan...
takut, jika kau tak lagi ada di sisiku,
tetapi ibu..., aku ingin agar kau tetap menganggapku sebagai anak-anak,
agar aku dapat melihat...
engkau yang susah payah mencucikan bajuku, merapikan dan selalu membuatkanku teh hangat,
karena engkau tahu, aku sudah tak lagi suka meminum susu...
saat itu, dalam hening aku merenung lalu menangis...
ibuku, adalah seorang wanita, dan aku pun juga adalah seorang wanita,
kelak, setelah aku menikah dan punya anak, aku pun pasti menjadi seorang ibu...
dan...
sebetulnya,
aku adalah seorang ibu....

Ini adalah sebuah kisah...
konon, di sebuah negeri yang penduduknya berjumlah milyaran, di antara semilyar itu ada satu orang lelaki yang memiliki cerita klasik.
Bacalah, pasti kau akan paham maksudnya.
======
Sosok lelaki itu tak pernah dikenal orang-orang sekitar, mungkin sebagian ada yang mengenalnya. Tapi dia memang tak begitu dikenal dan terkenal, sebab ia jarang memperkenalkan dirinya pada orang lain ketika tengah berkumpul dalam suatu pertemuan.
Ia sering terlihat duduk atau berdiri, di sudut, menyendiri. Menyeruput segelas es sirup beberapa kali karena untuk menghilangkan rasa ketegangannya menghadapi orang. Ia berharap orang-orang tak melihat kehadirannya, sebab ia tidak tahan dengan tatapan mata. Lelaki itu merasa jelek dan tidak patut untuk dilihat. Terlahir dengan memiliki wajah yang biasa-biasa saja. Membuat ia berpikir,
"Pantaslah aku tak ingin dikenal siapa-siapa, siapa sih aku? aku bukan siapa-siapa."gumamnya dalam hati. Lelaki itu tak menyadari bahwa apa yang dikatakan untuk dirinya sendiri dapat menjadi sugesti buruk untuknya, menciptakan aura negatif sehingga menyebabkan orang tak ingin melihat atau dekat dengannya.
Sebab ia tak pernah sekalipun menyunggingkan senyumnya, selain hanya pada ibunya. Hanya ibunya-lah yang berhak untuk mendapatkan senyum kasih tulus darinya.
Di sana, di sudut tirai ia berdiri sambil memperhatikan orang-orang yang hadir dalam jamuan makan, malam hari itu. Para laki-laki dan wanita yang saling tertawa, tersenyum dan menggoda satu sama lain, berucap kata-kata penuh kebohongan untuk membanggakan diri yang sebetulnya tak perlu dibanggakan. Lelaki itu berpikir, mereka semua mempraktekkan cara kucing yang sedang ingin kawin, atau burung merak yang memamerkan sayapnya. Untuk menarik pasangan masing-masing. Lelaki itu berpikir,
"Untuk apa? Itu semua hanyalah bualan." gumamnya dalam hati. SEcara tak sadari ia menanamkan kembali sugesti baru ke dalam pikiran alam bawah sadarnya.
Sementara suara-suara iringan musik membuat lelaki itu sedikit jengah, ia letakkan segelas es sirup itu di meja. Kemudian ia memutuskan untuk duduk. Padahal semua peserta tengah berpencar untuk mengenalkan diri satu sama lain, dengan tawa-tawa yang memuakkan.
Membuatnya benci. Satu per mati, lebih dari setengah mati.
Tidak ada yang melihatnya, sebab ia tak ingin terlihat atau dilihat. Di atas dinding terpajang sebuah spanduk besar. Sesuatu yang membuat ia tersenyum. Padahal ia tak pernah memberikan senyumnya pada siapapun selain pada ibunya saja. Tak lebih.
Tapi, mengapa kali ini ia tersenyum? Apakah ia sudah mulai menyadari akan kesalahan yang diperbuatnya sendiri akan sikap kakunya itu?
Atau mungkin, ia sebentar lagi akan ikut berkumpul karena rindu akan keramaian dan membuang rasa kesepiannya?
Lelaki itu tersenyum saat membaca tulisan spanduk, "Jamuan Makan Acara Temu Jodoh. Dua hari satu malam."
Kemudian ia mulai beralih dari tempat ia duduk dan keluar dari ruangan. Mengambil sebatang rokok di saku dan menyalakan putung rokok dengan pematiknya.
Fuufffhh...., asap-asap itu membentuk awan-awan kecil dan sempat ia terbatuk-batuk.
sementara suara-suara bising para wanita yang menggoda syahwat lelaki itu membuatnya muak. Tapi, mengapa ia harus sampai berada di tempat ini?
Apa yang dicarinya? Apa? Jika ia sendiri tak ingin terlihat, ia benar-benar tidak dilihat orang. Bahkan tak satupun yang datang menghampirinya, seorang wanita pun.
Lelaki itu berpikir,
"Pantaslah aku tak punya kekasih."
ia bergumam dalam hati, tak sadari bahwa sugesti ketiga ditanamkan kembali di dalam alam pikiran bawah sadarnya. Ia menoleh ke belakang, menatap wajah seorang wanita yang tengah berdiri menyudut di dekat tirai sambil berkali-kali terlihat menyeruput segelas minuman ditangannya. Wanita itu terlihat resah, kakinya pun tidak tenang.
Lelaki itu terus menatap wajah wanita itu. Sampai pada akhirnya tatapan mereka pun saling beradu. Di sana, disanalah, kembali senyuman itu pun tiba-tiba diberikan untuk si wanita.
"Itu wanitaku, dia kekasihku. Aku harus menghampirinya." gumam si lelaki menanamkan pikiran positif untuk pertama kalinya. Ketika ia membuang putung rokoknya, dan hendak masuk ke dalam ruangan pertemuan itu kembali. Saat langkah kakinya hendak memasuki ruang itu.
Senyum yang sempat terlintas tadi kini berubah menjadi derita, ketika dalam menit itu, ia melihat wanita yang diharap-harapkannya sudah didatangi oleh lelaki lain. Yang bukan dirinya.
lelaki itu bergumam, "Ah, aku terlambat."
Kini, ia kembali menatap sebuah spanduk besar itu, mencermati kata-katanya lalu berkata,
"Aku tak akan pernah mengikuti acara ini lagi, sebab tak ada yang melihatku."
THE END

KISAH ORANG GAGAL
Orang gagal itu selalu bertanya,
"MEngapa Tuhan tidak beri aku rezeki yang banyak?"
padahal ia sudah merasa bekerja susah payah tapi tak pernah kaya-kaya juga.
kemudian ia bertanya lagi, pada Tuhan:
"Kok Sudah capek gini ga dikasi bonus sih? Mobil kek, rumah mewah kek, apa kek. Biar semangat."
padahal ia sudah mendapatkan apa yang dipunya untuk bekerja dan semangat yang didapat dari istri dan anak-anaknya.
Orang gagal itu bertanya kembali, kali ini dengan nada dan pertanyaan yang amat kritis:
"Kalo misal aku diciptakan cuma jadi orang kere, nggak usah deh, ciptain aku! rugiin waktuku aja...!"
padahal ia dilahirkan dari rahim seorang ibu yang sangat dan selalu bersyukur telah melahirkannya di dunia dan menjadi orang yang berguna, walau hanya sebatas membantu kecil-kecilan saja.
hingga pada saat, orang gagal itu mendapatkan jawaban atas doanya:
Suatu hari ia ditawari oleh salah seorang temannya tentang pekerjaan yang benar-benar menjanjikan kekayaan dan apa yang diharapkannya, yaitu mobil, rumah mewah dan segalanya.
tetapi, karena ia merasa prosesnya tidak mudah, maka dengan sekali tebas ia mengomentari tawaran temannya tersebut;
"Sori, kalo caranya harus sesusah gitu, malas. mending jadi gini aja, ga repot-repot." jawab si orang gagal tersebut. Pada akhirnya orang yang berniat untuk membantunya pun pergi meninggalkannya. Tinggallah ia duduk sendiri sambil memandangi sebuah brosur yang diberikan oleh temannya tersebut, di mana tertulis:
"Bekerja keras, tuk raih impian, Hidup itu adalah pilihan, apakah Anda mau sukses atau tidak? Jika ya, bergabunglah!"
kemudian ia menyingkirkan brosur itu di bawah meja dan pergi meninggalkan ruangannya, asyik duduk merokok di warung sambil kembali meresahkan tentang hidupnya yang pas-pasan.
THE END
*
KISAH ORANG SUKSES
Wanita itu memperhatikan suaminya semenjak tadi, yang duduk dan berbincang-bincang dengan seorang teman lama suaminya dan menawarkan sesuatu. Saat itu, ia hanya bertugas menyuguhkan segelas teh hangat. Dan kembali ke dapur, namun, entah apa yang menggelitik hatinya ketika ia mendengar tentang impian-impian yang diucapkan oleh teman lama suaminya itu.
"Rumah, mobil dan uang yang banyak!"
ia tergiur..., tetapi kembali kecewa ketika melihat sosok suaminya itu tidak mengindahkan kata-kata temannya sendiri hingga temannya pun ngeloyor pergi, dan meninggalkan selembar brosur di atas mejanya. beberapa saat setelah itu, suaminya pun pergi keluar sambil menghisap batang rokok dan menuju ke warung tempat ia biasa berkumpul.
wanita itu mencari-cari lembaran brosur yang diletakkan di bawah meja. Diam-diam ia membacanya di dalam kamar agar tidak ketahuan oleh suaminya. di sana, ia tergugah saat membaca beberapa deret kalimat;
"Bekerja keras, tuk raih impian, Hidup itu adalah pilihan, apakah Anda mau sukses atau tidak? Jika ya, bergabunglah!"
maka, dengan semangat dan jiwa yang berkobar, ia pun mencatat nomor ponsel yang tertera di atas brosur tersebut dan kemudian menyimpan brosurnya. ia ingin...ingin sekali, walau suaminya tidak mau, tapi ia merasa yakin bahwa untuk mendapatkan impian itu adalah harus dijemput, dan tidak hanya sekedar berangan-angan kosong seperti yang dikatakan oleh suaminya tiap hari hingga ia bosan.
"Aku harus berubah, jadi lebih baik!" tanamnya dalam hati.
*
enam bulan berikutnya,
Si wanita itu terlihat jarang ada di rumah dan selalu bepergian dengan teman-teman sekerabatnya, ibu-ibu arisan dan yang lainnya. Ketika sang suami bertanya;
"Belakangan kamu nggak ada di rumah, apa yang kamu lakukan dengan teman-temanmu?"
wanita itu menjawab, "Mencari dan mendapatkan perubahan."
suaminya mengernyitkan alis, kemudian ia kembali asyik mengisap rokoknya dan berkumpul dengan teman-teman di warungnya.
satu tahun kemudian,
TIIN...TIIN...TIIN...
suara bunyi klakson berhenti tepat di depan rumahnya. Tampak sosok lelaki itu terkejut bukan main kepalang, melihat isterinya menyetir mobil baru, dan senyum-senyum ke arahnya.
"Hei, apa kau habis melacurkan diri untuk mendapatkan mobil?" tanyanya marah dan memaksa isterinya turun dari mobil. Dengan langkah tegas pun wanita itu turun dari mobil dan menghampiri semuanya, dengan santai ia pun menjawab sambil memberikan selembar brosur yang ada di tangannya, di mana selembar brosur itulah yang dulu pernah didapat oleh suaminya dan diacuhkannya begitu saja, kemudian ia mengambilnya dan mengikuti bisnis tersebut.
"Hanya dengan membaca selembar brosur ini, hidupku bisa berubah lebih baik. Dan aku mendapatkan impian itu,"
lelaki itu pun melongo saat melihat isterinya tengah berlari memanggil anak-anaknya dan meminta mereka masuk ke dalam mobil untuk diajak berjalan-jalan dengan mobil baru yang didapatnya dari hasil kerja kerasnya selama ini.
THE END
note: bermimpi boleh-boleh saja, mimpilah setinggi-tingginya dan bekerja keraslah untuk mendapatkan impian tersebut.

"Sekali lagi, aku ingin cantik, dan tidak terlihat kurus, Dok.
Bagaimana agar saya terlihat gemuk, dan vitamin apa yang harus saya minum, Dok."
(Curhat me with the doctor, last day.)
"Diminum sekali saja mbak, vitaminnya, yang obat satunya efek sampingnya mengantuk. Karena itu minumnya malam saja." ucap sang apoteker.
saya berpikir mungkin itu hanya vitamin karena saya mintanya vitamin. setelah saya pulang, lekas meminum dua vitamin dari dokter itu.
"Akhirnya sebentar lagi nafsu makanku bertambah."
sepuluh menit setelahnya, dikarenakan tidak mengerjakan tugas apa-apa, akhirnya saya pun memutuskan untuk minum saja. karena efek sampingnya mengantuk, jadi saya oke-oke saja.
sepuluh menit setelahnya, saya merasakan kaki saya kram..., otot-otot seakan dibuat tegang, kemudian perlahan-lahan melemas, dan membuat saya pun merasakan kantuk yang luar biasa hebatnya.
tidurlah dengan tenang...., seperti puteri salju yang menanti dibangunkan oleh kecupan seorang pangeran yang tampan.
dua jam kemudian, saya terbangun....
"Hoah, jam berapa yak?" saya melirik jam di ponsel yang menunjukkan pukul setengah satu siang. Padahal saya baru tertidur sekitar jam setengah sebelas.
Dua jam tertidur tiba-tiba perut kok terasa amat lapar. Lapar sekali jauh lebih dari yang biasanya saja. Pengaruh obat hebat atau sugesti nih!
saya menyantap makanan dengan lahap, satu jam kemudian membeli makanan lagi, dan satu jam lagi membeli es krim dan kue.
dahsyat!!! hebat!!! super!!!
GEMUKKKKK!!!
tetapi, tiba-tiba ada yang menggerakkan hati saya untuk bertanya dengan apoteker lain di satu tempat yang tidak jauh dari tempat praktek si dokter dan apotek di sana.
"Te..., saya tadi dikasi resep pro*** atau Siproheptadin HCl. katanya buat ningkatin nafsu makan. benar tidak, Te?" tanya saya lugu dan polos belagak seperti anak bodoh.
mimik wajah apoteker yang saya kenal itu pun langsung terkejut, "Mbak kok dikasih obat itu? Jangan, Mbak. efek sampingnya jelek sekali."
"Emang efek sampingnya apa, Te?"
"Nanti memang kelihatan gemuk, Mbak. wajahnya tapi kaya bengkak, seperti penderita penyakit beri-beri. bulat tapi bengkak. duh..., kok Mbak dikasih resep ini ya?"
"Wadoh..., masak se? tapi obatnya kecil-kecil."
"Iya, ni obat gatal-gatal, bikin tidur nyenyak. nah kalo ingin gemuk itu kan harus banyak tidurnya."
setelah percakapan cukup menegangkan itu pun akhirnya saya dianjurkan untuk membeli vitamin tanpa efek samping wajah bulat tapi menghaluskan kulit. Walopun menolong itu apoteker, tapi tetap dia juga promosi.
"mINUM aja NATUR ****, Ini juga bisa ningkatkan nafsu makan dan gemuk lo, Mbak. kulitnya nanti jadi halus, mengandung banyak vitamin E untuk wanita." katanya lagi. Padahal saya tak cocok minum kapsul kaplet segede bagong yang tidak bisa saya telan dengan mudah.
pulanglah saya dengan hati risau, "Tuh obat diminum lagi, ga ya? kalo apotekernya saja ngelarang, kok dokternya nyaranin ya? apakah terjadi perdebatan atau permusuhan antara keduanya? lalu bagaimana dengan saya?
korban, pasien...alah...semuanya.
saya masukkan semua vitamin ke dalam laci buku, seperti biasa tak pernah kuminum lagi obat-obatan itu. efek samping kok wajah bengkak, kalo cuma wajahnya saja yang terlihat gemuk. mending ditempeli bakpao saja dah!!!!
lagian sapa yang mao punya wajah kayak bakpaooooo.......
curhat on me...(saturday, 2011)

- Copyright © Blog Vanny Chrisma W - Devil Survivor 2 - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -